Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Desember 2013

Kalau Syiah Bukan Islam, Terus Gue Harus Bilang “Wow” Githu? (Sebuah Refleksi atas Publikasi Baliho Anti Syiah di Yogyakarta)



Sekitar dua mingguan lalu ketika mengendarai motor di satu jalan di Yogyakarta pandangan saya sedikit terganggu dengan sebuah baliho besar di pinggir pertigaan Parkir Ngabean Yogyakarta. Tulisan pada baliho itu tak kalah ‘menyengat’ dibanding terik matahari Jogja siang itu. Dengan kecepatan yang agak diperlambat saya mencoba mengamati lebih seksama. “Jangan Ragu!! Syiah Bukan Islam”. Demikian sepenggal kalimat besar yang ada pada baliho tersebut.

Tak lama berselang dari kejadian itu, sekitar beberapa hari kemudian, ketika saya melewati Jalan Wirosaban, tepat di hadapan muka sebelah timur Rumah Sakit Kota Yogyakarta (atau biasa disebut Rumah Sakit Wirosaban) terpampang pula dengan angkuh baliho besar seperti yang saya lihat di pinggir pertigaan Parkir Ngabean Yogyakarta. Pandangan saya kembali terganggu dengan kalimat provokatif pada baliho itu.
Saya mencoba berangan menjadi orang lain ketika tulisan dalam baliho tersebut saya baca. Barangkali perasaan penasaran, biasa-biasa saja, risih (seperti saya), kebencian yang semakin menjadi-jadi terhadap Syiah atau mungkin malah menjadi simpati pada Syiah, akan muncul pada benak masing-masing pembaca. Tapi selama berangan menjadi orang lain, saya belum mampu menerawang tujuan utama kelompok yang memasang baliho tersebut.

Jumat, 27 September 2013

Goyang Caisar dan Sindrom “Melu-Melu”


Pada momen Ramadan lalu, masyarakat Indonesia ‘dihebohkan’ dengan munculnya sebuah goyang yang bisa dikatakan menggemparkan industri hiburan Indonesia. Goyang yang diciptakan oleh seorang komedian baru bernama Caisar Aditya Putra atau yang akrab disapa Caisar mampu menghipnotis beribu pasang mata masyarakat kita pada saat sahur, di satu acara salah satu stasiun tv swasta negeri ini. Goyangan yang sederhana, asyik, sekaligus juga diiringi sebuah lagu yang ‘pas’, membuat goyang Caisar ini mudah dihafal dan diikuti banyak orang. Di dunia maya, tepatnya di salah satu situs ternama, You Tube, banyak sekali ditemukan video-video yang meniru gaya khas Caisar dalam bergoyang. Mereka para followers goyang Caisar memanfaatkan situs ini untuk numpang ngeksis, ngetren, narsis atau hanya sekedar turut mempopulerkan goyang Caisar tersebut. Sementara di dunia nyata, tak jarang anak-anak dan juga remaja dengan tidak malu-malu berteriak keras mencucapkan “keep smile”, sesuai dengan nada Caisar sebelum mulai bergoyang.

Rabu, 24 April 2013

Lewat Pendidikan, Mari Kita Selamatkan Bangsa


Hari Rabu 10 April 2013 lalu saya benar-benar belajar. Belajar dari sebuah peristiwa yang menampar saya demikian keras. Bahwa betapa pra-konsepsi yang kita bangun akan sangat berpengaruh pada cara berpikir kita terhadap seseorang atau sesuatu. Pra-konsepsi buruk yang kita bangun akan membuat kita menutup diri dari apa saja yang berkaitan dengannya. Itu pula yang terjadi pada saya ketika mendengarnama Anies Rasyid Baswedan, atau akrab disapa Anies Baswedan. Ketika pertama kali mendengar namanya yang akan mengisi salah satu kuliah umum pada Presidential Series Lectures, maka yang ada dalam persepsi saya ketika itu tidak jauh dari hal-hal yang berkaitan dengan liberalisme agama. Predikatnya sebagai rektor Universitas Paramadina, menggantikan Nurcholis Madjid yang terkenal sebagai seorang tokoh liberal, membuat saya tidak terlalu ngeh ketika mendengar namanya. Apalagi universitas yang dipimpinnya saat ini, oleh sebagian orang sering disebut sebagai sarangnya orang-orang liberal. Namun pada hari Rabu itu anggapan buruk tentang Anies seketika luntur, tatkala saya mendengar paparannya.

Rabu, 20 Maret 2013

Etos Kiwaneru; Rompi Kalkulus dan Kopiah Kalkulus


Siang itu, 13 Maret 2013, atmosfer Auditorium Kahar Mudzakkir, Universitas Islam Indonesia penuh sesak. Sekitar 600-an lebih anak manusia sudah duduk rapi di bangku yang telah disediakan panitia. Saya dan teman-teman yang memang sudah datang dari jam 10 pagi, setelah salat dzuhur sengaja mencari tempat terdepan. Dengan membawa kotak snack dan tas hitam, saya memilih deretan bangku nomor 3, di belakang persis bangku tamu kehormatan. Semua orang yang ada di situ sedang sama-sama menunggu. Menuggu seseorang yang tidak  lama lagi akan menjadi pembicara di acara tersebut.

Acara tersebut adalah salah satu serangkaian acara milad UII yang ke-70, bertajuk Presidential Series Lectures. Setiap seminggu sekali dalam satu bulan yang akan datang, secara berturut-turut, UII mendatangkan pembicara ahli dari berbagai bidangnya masing-masing dan tentu dengan tema yang berbeda-beda. Pembicaranya menurut saya tidak main-main. Selain pembicara pada minggu pertama ini, minggu-minggu berikutnya secara bergilir akan diisi oleh Zulkifli Hasan (Menteri Kehutanan RI), Anis Baswedan (Rektor Universitas Paramadina) dan Amien Rais (Mantan Ketua MPR & Tokoh Reformasi).

Selasa, 05 Maret 2013

Dan Mr. Crack pun Lebih Memilih Untuk Menulis



Bagi sebagian orang, menulis mungkin merupakan hal yang menjenuhkan, not impressive bahkan hanya membuang-buang waktu. Tapi bagi dia menulis adalah obat, penyembuh dan teman hidup. Ketika seseorang yang begitu ia cintai meninggalkan dirinya untuk selamanya, seorang dokter memvonisnya terkena psikosomatis malignant. Sebuah gangguan psikis yang tampil dalam bentuk gejala-gejala fisik yang dapat merusak organ-organ tubuh lain. Penderitanya tenggelam dalam kesedihan yang teramat sangat. Bahkan, akibat paling besar dari gangguan itu adalah kematian.


Empat opsi yang diberikan sang dokter kepadanya; dirawat di rumah sakit jiwa, tetap di rumah tapi ada tim dokter yang merawat, mencurahkan semua isi hati kepada orang-orang terdekatnya atau menuangkannya dalam tulisan. Dan pada akhirnya, dia memilih yang terakhir; menuangkannya dalam sebuah tulisan. Kini setelah tulisannya paripurna, ia berangsur ‘sembuh’, kembali menjadi seorang manusia ‘normal’, menikmati hari tuanya, sembari menunggu sang Maha Cinta mempertemukannya kembali dengan seseorang yang paling ia cintai. Itulah dia. Sang Mr. Crack, Baharuddin Jusuf Habibie.

Siapa yang tak kenal dia? Seorang jenius pemilik 46 hak paten di bidang Aeronautika. Dialah sosok anak bangsa yang dapat mengkolaborasikan cinta, nasionalisme, profesionalisme dan religiusitas dengan begitu mendalam, tulus dan jujur. Itulah yang bisa saya tarik dari kisah seorang Habibie dan Ainun yang dibingkai dalam sebuah film berdurasi 2 jam.

Film ini sudah sangat ingin saya tonton semenjak dirilisnya. Tapi baru beberapa hari lalu, Allah mengizinkan saya menikmati kesempatan yang begitu tak terlupakan itu. Film yang bisa menggambarkan betapa besar cinta suci mereka dalam mahligai suci pernikahan, meskipun kata Habibie ketika megomentari film itu, “Saya hidup dengan ibu Ainun 48 tahun, tidak cukup hanya difilmkan dengan durasi 2 jam. Tapi menonton film ini sampai kurang lebih 6 kali membuat saya selalu menangis. Ketika saya memejamkan mata, ibu Ainun selalu hadir”.

Film ini juga memberikan pelajaran bagi kita bahwa cinta sejati itu tidak pernah ada yang tahu siapa dia, kapan, serta di mana akan bertemu dan berpisah untuk selamanya. Dulu Habibie kecil satu sekolah dengan Ainun kecil. Bahkan suatu ketika Habibie kecil pernah mengejek Ainun, “Kamu itu tidak cantik, hitam seperti gula jawa”. Tapi siapa yang menyangka, pertemuannya di satu sore bulan Ramadan merubah segalanya. Merubah persepsi Habibie tentang Ainun, merubah gula jawa yang hitam menjadi gula pasir putih. Saya jadi teringat dengan satu petuah dosen saya. Petuah yang mungkin sangat berkaitan dengan ini. Ketika itu ia baru saja menemukan cinta sejatinya, lebih tepatnya sedang menunggu hari pernikahan dengan seorang wanita yang belum lama ia kenal. Kata beliau, “Kenal lama, pacaran lama, tunangan lama itu belumlah menjamin dua orang akan sampai ke pelaminan. Karena, menikahi orang yang kita cintai itu merupakan sebuah kemungkinan. Sedangkan mencintai orang yang sudah kita nikahi itu merupakan keniscayaan..”.

Sekali lagi, film ini betul-betul sarat makna. Hanya orang abnormal yang tidak dapat menangkap sedikitpun hikmah dari film ini. Sebenarnya bukan murni dari film ini, lebih tepatnya dari kisah pengalaman sang penulis sendiri yang menuangkannya dalam sebuah buku. Yup, betul sekali! menuangkannya dalam sebuah buku atau tulisan. Artinya menulis dan menulis. Itulah sebenarnya - menurut saya - salah satu pesan besar dari kisah kehidupan seorang habibie.

Ketika seorang dokter ahli memberikan 4 opsi kepadanya, ia memilih opsi terakhir; menuangkannya dalam sebuah tulisan. Saya yakin, bahkan haqqul yaqin, Habibie memilih opsi tersebut bukan karena dia tidak mampu membayar perawatan rumah sakit atau tim dokter yang memang ahli dalam bidang itu. Dengan hasil royalti 46 hak paten yang ia miliki atas namanya sendiri tentu bukanlah hal sulit untuk melakukan dan membayar semuanya. Tapi sekali lagi, sang Mr. Crack lebih memilih untuk menulis. Menuliskan kisahnya, dengan harapan orang lain bisa mendapatkan pencerahan dari kisah tersebut.

Mungkin tujuan sebenarnya habibie menulis kisahnya sendiri dalam sebuah buku bukanlah itu. Tapi yang jelas, dampak dari bukunya begitu mencerahkan. Itulah magis sebuah tulisan. Sesuatu yang terkadang tidak kita sangka akan bermanfaat, ternyata sangat besar pengaruhnya bagi orang lain. Sesuatu yang kecil tapi berdampak besar.

Habibie melalui satu karyanya ini juga mengajarkan kepada kita, bahwa betapapun terpuruknya seseorang, dia tidak boleh menyerah pada keadaan. Banyak cara untuk membalik keterpurukan menjadi kebangkitan dan mengubah kesengsaraan menjadi kebahagian. Dan Habibie melakukan itu dengan menulis. Membagikan pengalamannya kepada orang lain dengan begitu mengagumkan. Dia mencerahkan. Tidak hanya dengan ilmu dan teori-teori yang ia temukan, tapi juga dengan hal sederhana bernama pengalaman.

Jika kita tidak memiliki uang atau apapun untuk dibagikan dan diberikan kepada orang lain, maka menulislah. Karena dengan menulis, kita tidak perlu mengeluarkan banyak materi untuk diberikan kepada orang lain. Jika kita merasa bahwa hidup kita hanya itu-itu saja, maka menulislah. Karena dengan menulis, kita telah melakukan banyak hal untuk orang lain dan tentunya untuk diri sendiri. Jika kita merasa bahwa hidup kita hanya berjalan di tempat, maka menulislah. Karena dengan menulis, kita telah melompat jauh ke arah yang lebih maju. Menulis apapun itu. Yang terpenting, tulislah dengan cinta. Bukan tentang seseorang, pengalaman, karier, pekerjaaan, ilmu dan pengatahuan. Tapi dengan cinta. Karena dengan cinta kita bisa menulis tentang semuanya yang kita cintai. Bisa tentang seseorang, pengalaman, karier, pekerjaan, ilmu, pengatahuan atau yang lainnya.

Seorang ulama yang sangat masyhur bernama Imam al-Ghazali pernah berujar, “Jika kamu bukan anak seorang raja dan juga anak seorang ulama besar, maka menulislah”. Habibie adalah seorang ilmuwan sekaligus mantan presiden ke-3 Indonesia. Dia sangat terkenal, tidak hanya dalam skala nasional, namun internasional. Kekayaannya mungkin hampir setara dengan seorang raja. Tapi dia tetap menulis dan menulis. Lalu, siapa diri kita? Anak seorang raja-kah? Atau anak seorang ulama besar? Jika bukan keduanya, maka mulai saat ini kita harus berpikir untuk menulis sesuatu. Dan paling penting, berani memulainya.

Agaknya kurang afdal jika di akhir tulisan ini, saya tidak meyertakan sebuah pengakuan tentang betapa mencerahkannya buku dan sosok Habibie. Akhirnya, semoga testimoni  Buya Syafi’i Ma’arif tentang buku Habibie & Ainun yang ditulis sendiri oleh Mr. Crack dapat menggambarkan betapa jujur sang penulis menuangkan kisahnya, “Ini adalah sebuah karya yang ditenun dan dibingkai dengan perasaan cinta suci yang mendalam, tulus dan sarat nilai. Suka-duka penulisnya berdampingan selama 48 tahun dengan bu Ainun bertumpah ruah dengan penuh kejujuran dalam karya ini. Sebuah karya yang dapat dijadikan ilham bagi para pencari resep spiritual bagi bangunan rumah tangga sakinah. Sesuatu yang tidak mudah bagi kebanyakan kita, termasuk saya”.






Kaliurang, 27 Februari 2013



Add caption

Rabu, 09 November 2011

Kekasih-Kekasih Surga



Tanah haram mengepuh. Memanggang para kekasih-kekasih-Nya. Harta dan jiwa siap mereka taruhkan di meja judi suci. Cinta kekasih-kekasih dunia telah mereka tinggalkan demi meraih cinta agung-Nya. Tak ada lagi bayangan dan harapan kemewahan dunia. Di depan telah bersiap menanti maut yang mengantar ke surga. Janji-Nya yang telah termaktub di dalam kitab suci membakar semangat kekasih-kekasih surga.

Seorang lelaki berpakaian putih. Tampan. Berwajah bersih. Tak ada noda. Mendatangi kerumunan kekasih-kekasih surga.


“Besok, aku akan berikan bendera komando mulia ini pada seseorang. Yang di hatinya tiada siapapun kecuali DIA dan aku. Ia amat cinta pada-Nya dan padaku. Cintanya tak kan bertepuk sebelah tangan, karena DIA dan aku pun mencintainya. DIA akan memenangkan pertaruhan kalian di meja judi suci di bawah komando jihadnya”


Serentak kekasih-kekasih surga terhentak dengan ucapan seseorang yang tak asing di mata mereka. Kesantunan perangainya. Kehalusan ucapannya dan ketinggian budi pekertinya membuat seseorang ini sangat berkharisma.


Mulut mereka terbisu. Rasa harap tumbuh bercokol dalam hati. Hati mereka berharap tugas mulia ini akan menjadi jalan pintas menuju taman surga. Tapi siapa gerangan orang yang beruntung ini? tak ada tanya yang keluar dari mulut mereka. Mulut mereka kembali terbisu di hadapan sepuhan tanah haram. Di balik rongrongan takbir padang sahara yang luas.

Matahari menurun setapak demi setapak. Sepanjang senja merah keemasan menghias petala langit. Sesampainya jubah hitam malam memayungi. Tak ada bahasan mereka para kekasih surga selain siapa orang yang akan menjadi komando pertaruhan judi suci besok. Malam seiring memekat. Jubahnya semakin menghitamkan petala langit. Malam pun tertidur.

***

Fajar menyingsing di tanah haram. Adzan bilal mengumandang di seantero hamparan sahara yang hangat. Sisa-sisa terik matahari menghangatkan shubuh yang seharusnya dingin. Kekasih-kekasih syurga  menghamipiri kumandang cinta-Nya dengan rasa gembira berlipat. Rasa gembira yang tertahan sedari malam. Seusai shubuh, sang imam yang tak lain ialah seorang lelaki tampan berwajah bersih yang kemarin berjanji akan memberikan bendera komando berbalik dari pengimamannya. Sorban putih melilit di kepalanya. Ia melihat dan meneliti seluruh jama’ah. Gurat wajahnya tiba-tiba berubah. Sedikit mengeruktan dahinya. Cukup lama ia melihat dan meneliti. Di satu lain, kekasih-kekasih surga semakin memuncak harapnya. Semakin membuncah penantiannya.


“Ada apa wahai kekasih Sang Pencipta, yang DIA telah memberikan hak padamu kelak di akhirat untuk memberi syafa’at?” tanya seorang kekasih surga yang semakin berhaparap dirinya-lah yang diberi bendera komando mulia.


“Di mana Ali bin Abi Thalib?” jawabnya sekaligus bertanya.


“Ia sedang sakit matanya. Sehingga ia tak datang kemari pagi ini”


“Wahai kekasih-kekasih surga, bawalah ia kemari padaku. Tahukah kalian? Ia lah orang yang akan ku beri komando mulia ini.  ”


Takbir menggema perlahan. Semakin lama semakin mengeras. Berbondong mereka munuju rumah Ali. Ada sedikit rasa kecewa dalam diri mereka karena bukan mereka yang terpilih. Tapi mereka tetap melapangkan dada. mereka menerima apa yang dikatakan kekasih-Nya. Mereka tetap yakin firman-Nya dalam kita suci tak akan pernah DIA ingkari sendiri. Firman-Nya sekaligus menjadi janji-Nya yang sakral.


“Wahai kekasih sekalian alam. Ini dia Ali bin Abi Thalib telah  kami datangkan untukmu. Sekarang, kami taat padamu dan padanya. Apa yang engkau dan ia titahkan akan kami laksanakan.”


Ia rengkuh tangan Ali. Tak lama, tangannya mengusap mata Ali sambil meludahinya. Do’a ia panjatkan pada sang Rabb. Sesaat kemudian sembuhlah mata Ali. Bahkan tak ada bekas luka sedikitpun di mata beningnya.


“Wahai pemuda tangguh. Cinta-Nya dan cintaku akan menguatkanmu. Pergilah!. Dan laksanakan kewajiban ini. menangkan perjudian suci ini bersama mereka para kekasih surga. Bawa dan pimpin mereka para kekasih surga. Ajaklah musuh-musuh judimu untuk memeluk agama cinta ini. jika mereka telah berserah, ajari dan beritahukanlah hak-hak-Nya yang harus mereka penuhi. Sungguh! demi sang Rabb yang aku berada di tangan-Nya, hal itu lebih baik dari harta termewah para gujarat.’’

Ali berdiri dari duduknya. Tangannya memegang kedua bahu lelaki tampan itu.

“Cinta-Nya dan cintamu menguatkanku”. Jawab ali dengan nada tegas.

***

Ali berbalik dari hadapan lelaki bersorban putih itu. Menghadap belakang ke arah para kekasih surga. Dengan lantang ia bertanya.


“Siapkah kalian para kekasih surga berjudi di meja judi suci?”


Matahari semakin mendaki langit. Cahayanya mengobarkan semangat para kekasih syurga. Mereka tak menjawab. Hanya tahlil dan takbir yang mereka gemakan seiring pertanyaan Ali. Di bawah pimpinan pemuda tangguh mereka bertakbir, berangkat berjudi di meja judi suci, menyerukan kalimat-kalimat-Nya..





PUTM, kaliurang, 1 0ktober 2011, senja.

Diadaptasi dari kisah dalam hadits nabi yang dikutip dari kitab fathul masjid karangan Syekh Abdur Rahman bin Hasan Ali Syaikh bab “Ad-Du’a Ilaa Syahadati An Laa Ilaahaillalah”.

Mesir Terlalu Indah Untuk Tidak Ditulis



“Mesir terlalu indah untuk tidak ditulis”. Satu kalimat di catatan dosenku jebolan Al-Azhar University. Demikian mungkin yang masih ada dalam relung hatiku yang terdalam. Mimpi-mimpi mesir masih mengawang tak tahu tujuan di anganku. Masih terus menghiasi lamunanku dikala rinduku pada senja Alexandria yang konon mengemaskan birunya langit mesir. Pantulan riak lautnya yang memerak menghias samudera.

Oh, Mesir. Andaikan kau tak sejauh mata memandang mungkin akan kukayuh sampanku mengarungi samudera. Akan ku langkahkan kakiku untuk menapaki jejak-jejak para alumni Azhar yang telah dulu pulang ke Indonesia.

Oh, Mesir. Andaikan tiba-tiba aku mendapatkan undangan darimu untuk hadir di Al-Azhar-mu yang penuh dengan sejarah para ulama hebat, akan ku sungkurkan kepalaku pada-Nya. Akan kuucap takbir cinta pada-Nya. Akan ku siapkan kado indah untukmu. Akan kudatangi Alexandria-mu. Akan kutulis disalah satu pojok pyramid-mu “Aku padamu”.

Mungkin memang benar “mesir terlalu indah untuk tidak ditulis”. Tapi ada satu kalimat yang mungkin lebih pantas untukmu. Ini murni dariku, bukan dari yang lain…
”Mesir selalu indah untuk ditulis”

Satu Malam di Wonosobo (Eps. 1)

Sore itu langit Wonosobo menguning keemasan. Walau sebagian ditutupi gumpalan awan tebal yang sedikit meneduhi bumi Wonosobo yang mulai mendingin. Sisa-sisa kehangatan dari sang mentari masih terasa ketika aku hampir memasuki jalan utama menuju alun-alun Wonosobo. Terlihat panorama khas pegunungan ketika aku menghadapkan mukaku ke arah kiri. Hijau dihiasi sedikit kabut putih. Wajah indah matahari sebentar lagi akan masuk tertutup pegunungan hijau di ufuk barat. Pesonanya membuatku seakan berada di salah satu tempat terindah di dunia.

Di pertigaan terminal lama Wonosobo tertulis arah kiri menuju dieng, Temanggung dan Semarang. Sedangkan lurus arah kota. Tanganku memberi isyarat dengan telunjuk agar lurus ke arah kota pada saudaraku yang menyetir di depan. Kami berdua meluncur menggunakan supra fit biru menuju alun-alun. Sebelum sampai di alun-alun kami melewati dua perempatan besar. Sepanjang jalan dari pertigaan tadi, jalanan ramai manusia yang berlalu lalang dan motor mobil yang terparkir rapi di samping kiri jalan. Maklum, di sepanjang jalan pusat kota Wonosobo ini terdapat pasar induk Wonosobo, RITA, dan toko-toko penjual pakaian dan bermacam-macam kebutuhan primer maupun skunder lainnya.

Sebelum sampai di alun-alun, layar persegi empat besar berukuran kira-kira lima kali lima meter terpampang gagah di sebelah selatan persisnya. Karena jalanan ramai kami hanya bisa memacu motor maksimal 40km/ jam.

Supra fit biru terus meluncur perlahan. Sampai di bundaran alun-alun kami harus memutar karena jalannya memang dibuat satu arah. Terlihat beberapa pasang muda-mudi sedang menghabiskan waktu senja yang indah di pinggiran alun-alun. Di tengah alun-alun, tua, muda, dan anak-anak menghabiskan waktu senjanya dengan penuh keriangan. Ada yang bermain bola, bulutangkis, atau hanya sekedar menghabiskan sore wonosobo yang ‘’hangat-hangat dingin’’ kala itu.

Aku di Wonosobo bukan tanpa tujuan. Aku di Wonosobo sengaja untuk bersilaturahmi ke tempat teman almarhum ayahku. Mereka dulu adalah teman sekelas dan juga teman bermain bersama. Masa-masa muda yang dulu mereka alami sekarang aku sedang jalani. Aku mungkin bukan anak yang berbakti, tapi aku selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk mereka. Aku mungkin sering mengecewakan mereka, oleh karenanya Aku ingin membaktikan masa mudaku untuk ayah dan ibuku. Aku ingin terus menyambung silaturahmi dengan teman-temnnya.

Saat itu aku belum tahu persis rumahnya. Aku hanya diberi ‘’ancer-ancer’’ oleh salah satu teman ayahku yang lain. Katanya rumah teman ayahku itu tak jauh dari rumah sakit umum daerah Wonosobo dan SMA Muhammadiyah Wonosobo. Teman ayahku ini adalah salah satu dari beberapa temannya yang masih hidup. Yang lain telah banyak bepulang ke Rahmatullah.

Setelah berputar di alun-alun aku langsung berinisiatif memilih jalan di depan masjid agung wonosobo ke arah pasar pagi. Aku bertanya pada penjual gorengan dimana letak RSUD Wonosobo?. Pejual tersebut memberikan petunjuk dengan teliti dan seksama.

‘’Terus ke selatan, mas. Nanti ada pertigaan pasar masih terus. Ada perempatan masih terus. Kira-kira seratus meter ada perepatan lagi belok kanan nanti kelihatan rumah sakitnya. Tanya lagi aja di daerah situ mas’’. Si penjual memberikan petunjuk arah sambil mengelap tangannya yang masih blepotan adonan.


Aku langsung menuju arah yang ditunjukkan penjual gorengan itu. Dan benar, tak lama kemudian aku melihat RSUD Wonosobo, cukup besar, namun bila dibandingkan dengan RS Sarjito yang ada di Jogja tentu masih besar RS Sarjito. Di depan rumah sakit aku bertanya kembali. Setelah merasa cukup aku langsung bergegas menuju alamat yang akan aku tuju.

Tak sampai lima menit aku telah menemukan rumah yang cukup besar di samping SMK & SMA Wonosobo, bercat hijau dan bertingkat. Kuketuk pintu dan kuberikan salam. Beberapa kali tetap tidak ada yang menjawab. Sedikit perasaan kurang puas menyelinap. Namun aku tetap yakin bahwa ini benar rumah teman ayahku dan beliau sedang ada di rumah.
“Mas, mas. Cari siapa ya?” suara seseorang mengagetkanku dari belakang.

Aku mencari dari mana suara itu berasal. Kepalaku kuputar 180 derajat. Seorang lelaki muda berumur sekitar 23 tahun memanggilku dari masjid yang tak jauh dari rumah bercat hijau itu.

“Ee..anu mas, mau nyari pak Abu Yahya. Apa ini benar rumahnya ya?” . Tanyaku sambil kulangkahkan kakiku menuju masijd berniat menyalami lelaki tersebut.

“Oh, iya benar mas. Sampeyan dari mana ya?” Tanyanya balik sambil kedua tangan kami bersalaman.

“Saya dari Kebarongan. Tempat dulu pak Abu pernah sekolah”.

“Oo…oh, Kebarongan. Ya sebentar mas. Saya tanya ke cucunya dulu”

Lelaki tersebut berbalik dan bertanya setengah berbisik kepada anak kecil yang sedikit gempal. Tidak terlalu keras, tapi juga tida terlalu pelan sehingga aku bisa sedikit mendengarnya. Kulihat anak kecil itu mengangguk. Rasa kurang puas yang beberapa saat tadi menyelinap, hilang seiring anggukkan anak kecil yang besar kemungkinan dia adalah cucu dari teman ayahku itu.

“Sebentar mas, saya liat dulu ke rumah” kata seorang lelaki yang bersalaman denganku tadi.

Aku mengikuti di belakangnya. Menuju saudaraku yang sedari tadi tetap menunggu di atas motor di depan rumah bercat hijau.

Matahari semakin menurun. Meninggalkan jejak-jejak mega merah di kanvas ufuk barat. Pesona senja yang indah. Teduh dan asri mengelokkan bumi Wonosobo.



***

Bersambung...






Kebarongan-Kaliurang, 2011