Selasa, 05 Maret 2013

Dan Mr. Crack pun Lebih Memilih Untuk Menulis



Bagi sebagian orang, menulis mungkin merupakan hal yang menjenuhkan, not impressive bahkan hanya membuang-buang waktu. Tapi bagi dia menulis adalah obat, penyembuh dan teman hidup. Ketika seseorang yang begitu ia cintai meninggalkan dirinya untuk selamanya, seorang dokter memvonisnya terkena psikosomatis malignant. Sebuah gangguan psikis yang tampil dalam bentuk gejala-gejala fisik yang dapat merusak organ-organ tubuh lain. Penderitanya tenggelam dalam kesedihan yang teramat sangat. Bahkan, akibat paling besar dari gangguan itu adalah kematian.


Empat opsi yang diberikan sang dokter kepadanya; dirawat di rumah sakit jiwa, tetap di rumah tapi ada tim dokter yang merawat, mencurahkan semua isi hati kepada orang-orang terdekatnya atau menuangkannya dalam tulisan. Dan pada akhirnya, dia memilih yang terakhir; menuangkannya dalam sebuah tulisan. Kini setelah tulisannya paripurna, ia berangsur ‘sembuh’, kembali menjadi seorang manusia ‘normal’, menikmati hari tuanya, sembari menunggu sang Maha Cinta mempertemukannya kembali dengan seseorang yang paling ia cintai. Itulah dia. Sang Mr. Crack, Baharuddin Jusuf Habibie.

Siapa yang tak kenal dia? Seorang jenius pemilik 46 hak paten di bidang Aeronautika. Dialah sosok anak bangsa yang dapat mengkolaborasikan cinta, nasionalisme, profesionalisme dan religiusitas dengan begitu mendalam, tulus dan jujur. Itulah yang bisa saya tarik dari kisah seorang Habibie dan Ainun yang dibingkai dalam sebuah film berdurasi 2 jam.

Film ini sudah sangat ingin saya tonton semenjak dirilisnya. Tapi baru beberapa hari lalu, Allah mengizinkan saya menikmati kesempatan yang begitu tak terlupakan itu. Film yang bisa menggambarkan betapa besar cinta suci mereka dalam mahligai suci pernikahan, meskipun kata Habibie ketika megomentari film itu, “Saya hidup dengan ibu Ainun 48 tahun, tidak cukup hanya difilmkan dengan durasi 2 jam. Tapi menonton film ini sampai kurang lebih 6 kali membuat saya selalu menangis. Ketika saya memejamkan mata, ibu Ainun selalu hadir”.

Film ini juga memberikan pelajaran bagi kita bahwa cinta sejati itu tidak pernah ada yang tahu siapa dia, kapan, serta di mana akan bertemu dan berpisah untuk selamanya. Dulu Habibie kecil satu sekolah dengan Ainun kecil. Bahkan suatu ketika Habibie kecil pernah mengejek Ainun, “Kamu itu tidak cantik, hitam seperti gula jawa”. Tapi siapa yang menyangka, pertemuannya di satu sore bulan Ramadan merubah segalanya. Merubah persepsi Habibie tentang Ainun, merubah gula jawa yang hitam menjadi gula pasir putih. Saya jadi teringat dengan satu petuah dosen saya. Petuah yang mungkin sangat berkaitan dengan ini. Ketika itu ia baru saja menemukan cinta sejatinya, lebih tepatnya sedang menunggu hari pernikahan dengan seorang wanita yang belum lama ia kenal. Kata beliau, “Kenal lama, pacaran lama, tunangan lama itu belumlah menjamin dua orang akan sampai ke pelaminan. Karena, menikahi orang yang kita cintai itu merupakan sebuah kemungkinan. Sedangkan mencintai orang yang sudah kita nikahi itu merupakan keniscayaan..”.

Sekali lagi, film ini betul-betul sarat makna. Hanya orang abnormal yang tidak dapat menangkap sedikitpun hikmah dari film ini. Sebenarnya bukan murni dari film ini, lebih tepatnya dari kisah pengalaman sang penulis sendiri yang menuangkannya dalam sebuah buku. Yup, betul sekali! menuangkannya dalam sebuah buku atau tulisan. Artinya menulis dan menulis. Itulah sebenarnya - menurut saya - salah satu pesan besar dari kisah kehidupan seorang habibie.

Ketika seorang dokter ahli memberikan 4 opsi kepadanya, ia memilih opsi terakhir; menuangkannya dalam sebuah tulisan. Saya yakin, bahkan haqqul yaqin, Habibie memilih opsi tersebut bukan karena dia tidak mampu membayar perawatan rumah sakit atau tim dokter yang memang ahli dalam bidang itu. Dengan hasil royalti 46 hak paten yang ia miliki atas namanya sendiri tentu bukanlah hal sulit untuk melakukan dan membayar semuanya. Tapi sekali lagi, sang Mr. Crack lebih memilih untuk menulis. Menuliskan kisahnya, dengan harapan orang lain bisa mendapatkan pencerahan dari kisah tersebut.

Mungkin tujuan sebenarnya habibie menulis kisahnya sendiri dalam sebuah buku bukanlah itu. Tapi yang jelas, dampak dari bukunya begitu mencerahkan. Itulah magis sebuah tulisan. Sesuatu yang terkadang tidak kita sangka akan bermanfaat, ternyata sangat besar pengaruhnya bagi orang lain. Sesuatu yang kecil tapi berdampak besar.

Habibie melalui satu karyanya ini juga mengajarkan kepada kita, bahwa betapapun terpuruknya seseorang, dia tidak boleh menyerah pada keadaan. Banyak cara untuk membalik keterpurukan menjadi kebangkitan dan mengubah kesengsaraan menjadi kebahagian. Dan Habibie melakukan itu dengan menulis. Membagikan pengalamannya kepada orang lain dengan begitu mengagumkan. Dia mencerahkan. Tidak hanya dengan ilmu dan teori-teori yang ia temukan, tapi juga dengan hal sederhana bernama pengalaman.

Jika kita tidak memiliki uang atau apapun untuk dibagikan dan diberikan kepada orang lain, maka menulislah. Karena dengan menulis, kita tidak perlu mengeluarkan banyak materi untuk diberikan kepada orang lain. Jika kita merasa bahwa hidup kita hanya itu-itu saja, maka menulislah. Karena dengan menulis, kita telah melakukan banyak hal untuk orang lain dan tentunya untuk diri sendiri. Jika kita merasa bahwa hidup kita hanya berjalan di tempat, maka menulislah. Karena dengan menulis, kita telah melompat jauh ke arah yang lebih maju. Menulis apapun itu. Yang terpenting, tulislah dengan cinta. Bukan tentang seseorang, pengalaman, karier, pekerjaaan, ilmu dan pengatahuan. Tapi dengan cinta. Karena dengan cinta kita bisa menulis tentang semuanya yang kita cintai. Bisa tentang seseorang, pengalaman, karier, pekerjaan, ilmu, pengatahuan atau yang lainnya.

Seorang ulama yang sangat masyhur bernama Imam al-Ghazali pernah berujar, “Jika kamu bukan anak seorang raja dan juga anak seorang ulama besar, maka menulislah”. Habibie adalah seorang ilmuwan sekaligus mantan presiden ke-3 Indonesia. Dia sangat terkenal, tidak hanya dalam skala nasional, namun internasional. Kekayaannya mungkin hampir setara dengan seorang raja. Tapi dia tetap menulis dan menulis. Lalu, siapa diri kita? Anak seorang raja-kah? Atau anak seorang ulama besar? Jika bukan keduanya, maka mulai saat ini kita harus berpikir untuk menulis sesuatu. Dan paling penting, berani memulainya.

Agaknya kurang afdal jika di akhir tulisan ini, saya tidak meyertakan sebuah pengakuan tentang betapa mencerahkannya buku dan sosok Habibie. Akhirnya, semoga testimoni  Buya Syafi’i Ma’arif tentang buku Habibie & Ainun yang ditulis sendiri oleh Mr. Crack dapat menggambarkan betapa jujur sang penulis menuangkan kisahnya, “Ini adalah sebuah karya yang ditenun dan dibingkai dengan perasaan cinta suci yang mendalam, tulus dan sarat nilai. Suka-duka penulisnya berdampingan selama 48 tahun dengan bu Ainun bertumpah ruah dengan penuh kejujuran dalam karya ini. Sebuah karya yang dapat dijadikan ilham bagi para pencari resep spiritual bagi bangunan rumah tangga sakinah. Sesuatu yang tidak mudah bagi kebanyakan kita, termasuk saya”.






Kaliurang, 27 Februari 2013



Add caption

Minggu, 17 Februari 2013

Membuka Kembali Pintu Ijtihad dalam Ilmu Hadits (Resensi Buku Karya Dr. Kasman; Hadits dalam Pandangan Muhammadiyah)


Oleh: Nicky Alma Febriana Fauzi*

Himpunan Putusan Tarjih atau yang sering disingkat HPT, bisa dikatakan merupakan salah satu kitab (buku) yang menjadi pedoman warga Muhammadiyah untuk melaksanakan segala aktivitas ibadah maupun muamalah yang tercakup di dalamnya. Lebih dari itu bahkan oleh sebagian warganya, keberadaan HPT dianggap sangat istimewa dan otorotatif, untuk tidak mengatakan disakralkan.

Fenomena demikian ternyata tidak membuat Dr. Kasman (ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jember) menutup diri untuk bersikap kritis terhadap HPT. Dalam bukunya yang berjudul “Hadits Dalam Pandangan Muhammadiyah”, ia berhasil mengkritisi hadits-hadits yang ada dalam HPT dengan sangat obyektif. Buku yang berasal dari disertasinya ini selain menggambarkan dengan detail manhaj Muhammadiyah dalam memandang suatu hadits, juga mengukur seberapa konsisten Muhammadiyah, dalam hal ini Majelis Tarjih menggunakan dan menerapkan manhajnya tersebut.

Ada beberapa hasil penelitiannya yang bisa dipertimbangkan dan menjadi bahan diskusi dikemudian hari. Pertama, dalam HPT, Dr. Kasman meneliti dan menemukan setidaknya terdapat 2 hadits dha’if dalam persoalan ibadah, menurut kriteria yang ditetapkan Muhammadiyah sendiri. Selain itu ditemukan pula 6 hadits dari 11 hadits yang digunakan dalil dalam Kitab Iman berstatus ahad. Padahal sebagaimana diketahui, Muhammadiyah hanya berhujah dengan hadits mutawatir dalam persoalan akidah, di mana persoalan iman termasuk di dalamnya (Asjmuni Abdurrahman, 2010: 13 dan Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah, 2009: 22).

Kedua, ditemukan pula beberapa hadits yang redaksinya sedikit berbeda, bahkan sangat berbeda dengan redaksi yang terdapat dalam kitab hadits aslinya. Dalam hal ini Dr. Kasman menduga pada saat perumusan HPT dulu, pengutipan hadits-hadits yang akan dijadikan dalil tidak dirujuk pada kitab aslinya, namun hanya pada kitab-kitab ‘kedua’, seperti Subul al-Salam, Nailul Authar dan lain sebagainya. Ketiga, adalah persoalan yang sampai sekarang masih menjadi obyek bulan-bulanan para orientalis kepada Islam, yaitu tentang kurang perhatiannya sarjana Islam terhadap kritik matan hadis. Menurut Dr. Kasman, Muhammadiyah dalam HPT-nya juga masih kurang sekali memperhatikan soal kritik matan ini.

Hasil penelitian dari mantan ketua Majelis Tarjih PDM Jember ini sesusungguhnya menjadi bekal berharga bagi para ulama Muhammadiyah kini untuk juga mau meninjau ulang, mengkritisi atau bahkan merevisi apa yang telah ditetapkan ulama Muhammadiyah dulu dalam HPT. Seperti diketahui, memang bahwa ketika dirumuskannya HPT dulu, sarana dan juga pra-sarana pendukung masih sangat terbatas. Untuk mengakses banyak kitab saja sangatlah sulit, tidak seperti sekarang. Maka dapat dimaklumi manakala terdapat beberapa sedikit kekurangan di sana-sini.

Muhammadiyah sebagai organisasi modern yang menyadari akan hal ini dan berkeyakinan bahwa ijtihad masih tetap terbuka, tentu tidak akan berdiam diri ketika terdapat ijitihad dari ulama Muhammadiyah dulu dalam HPT yang sekiranya kurang sesuai dengan semangat al-Qur’an dan al-Sunnah.

Buku ini bisa menjadi panduan dalam langkah awal untuk mengoreksi bersama apa yang telah ditetapkan dalam HPT, yang mungkin kurang sejalan dengan fakta-fakta keilmuan. Misalnya saja, Dr. Kasman dalam bagian akhir buku ini memberikan saran untuk merumuskan kembali penjelasan tentang kaidah Muhammadiyah yang hanya berhujah dengan hadits mutawatir dalam persoalan akidah. Selain itu, menurutnya, Muhammadiyah juga perlu merumuskan kembali penjelasan tentang kriteria hadits mauquf yang dihukumi marfu’, kriteria ijma’ shahabi, kriteria qarinah yang dapat digunakan untuk menyambung sanad hadits mursal, dan kriteria tadlis (penyembunyian cacat) yang dapat mencederai keadilan seorang mudallis.

Secara keseluruhan, buku ini meskipun mengkritisi sebuah kitab (buku) yang dianggap sangat istimewa dan otoritatif oleh sebagian orang Muhammadiyah, namun keberadaannya patut disambut baik. Selain karena keobyektifan si penulis dalam bersikap kritis, juga karena buku ini ditulis oleh orang yang menjadi bagian tak terpisahkan dari Mejelis Tarjih dan Muhammadiyah itu sendiri. Seperti yang diungkapkan Prof. Zainul Arifin, guru besar hadits dan ilmu haditspada IAIN Sunan Ampel Surabaya ketika memberikan kata pengatar untuk buku ini, “Kelebihan dari karya tulis ini tidak hanya ditulis oleh seorang yang banyak bergelut dengan kajian hadits dan ilmu hadits, tetapi juga karena dilakukan oleh seorang yang menjadi bagian tak terpisahkan dari Majelis Tarjih dan Muhammadiyah itu sendiri dengan tetap menjaga nalar kritisnya”.



Judul Buku     : Hadits dalam Pandangan Muhammadiyah
Penulis            : Dr. Kasman
Penerbit         : Mitra Pustaka
Hal                  : 426 + xxii
Tahun             : 2012


* Alumni Pondok Pesantren Madrasah Wathoniyah Islamiyah Kebarongan dan mahasiswa Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah Yogyakarta

Kamis, 14 Februari 2013

Di Balik Sebuah Nama




Terlahir dengan nama Niki Alma Febriana Fauzi adalah salah satu takdir yang ada padaku. Tidak pernah terlintas sama sekali sebelumnya ketika aku masih di rahim ibu akan mendapatkan nama seperti ini. Sebuah nama yang bisa dibilang cukup panjang untuk ukuran nama orang Indonesia. Maklum, ketika aku belum lahir ke dunia, kedua orang tuaku begitu mendambakan seorang anak berjenis kelamin laki-laki; kedua kakakku semuanya perempuan. Mungkin dibuatkannya nama sepanjang ini adalah salah satu bentuk rasa syukur dan kepuasan tersendiri dari mereka. Selintas namaku ini memang agak kebarat-baratan (bila kata “Niki” tertulis “Nicky”), namun juga agak kejawa-jawaan (“Niki” dalam bahasa Jawa artinya adalah “ini”).  Tidak hanya itu, cita rasa Arabian juga cukup terasa dengan adanya kata “Alma” dan “Fauzi”, yang keduanya secara berurutan berarti “air” dan “keberuntungan”. Kata “Febriana” mungkin yang paling tidak bercorak kebarat-baratan, kejawa-jawaan atau kearab-araban. Ya, karena kata ini terambil dari sebuah nama bulan, yaitu Februari. Kata ibuku, agar dia tidak lupa pada bulan apa anak laki-laki pertamanya lahir.

Kadang aku berpikir mengapa orang tuaku menamaiku dengan nama seperti ini. Apa ada makna di baliknya? Pernah kutanyakan, tapi selalu tidak pernah mendapat jawaban yang memuaskan. Konon, sebagian namaku adalah pemberian dari seseorang yang masih saudara dengan orang tuaku. Sebut saja namanya Aying. Dari Aying inilah sebagian namaku berasal. Dua kata pertama (Niki dan Alma) adalah darinya, dan dua yang lain dari orang tuaku. Dan kebetulan juga (namun sesugguhnya Allah telah merencanakan) nama “Alma” adalah nama yang sering orang-orang gunakan untuk memanggilku. Secara arti Indonesia bila namaku diterjemahkan maka kurang lebih ialah “ini - air - bulan Februari - keberuntungan”. Terjemahan yang tidak cukup membantu menggali makna di balik sebuah nama yang panjang. Kubiarkan terus-menerus kebingungan ini, sampai pada saatnya banyak orang yang mengira namaku adalah nama perempuan, bukan laki-laki. Baik di dunia maya maupun di dunia nyata.

Kebingunan dan rasa agak kesal karena ketidakjelasanan makna namaku sendiri semakin menjadi-jadi. Mangapa tidak jelas begini? Jadi dikira perempuan lagi? Sampai pada akhirnya ketika aku duduk di kelas tiga ‘Aliyah (sederajat 3 SMA), ada seorang guruku yang bercerita tentang keistimewaan air. Air adalah sebuah senyawa yang paling mandiri di dunia ini, katanya. Dia adalah senyawa independen yang mampu bertahan di dunia walaupun tidak ada senyawa-senyawa yang lain. Dia adalah senyawa yang paling dibutuhkan oleh siapapun; manusia, tumbuhan, binatang. Bayangkan bila di dunia ini tidak ada air! Manusia, tumbuhan, binatang dan siapa saja (secara normal) tidak akan bisa bertahan hidup. Manusia mungkin bisa bertahan tidak makan berhari-hari, tapi coba suruh manusia untuk tidak minum barang sehari. Mendengar penjelasan dari guruku itu, kebingungan akan makna namaku sendiri sedikit demi sedikit luntur dan berubah menjadi partikel-partikel yang menggumpal mewujud rasa terimakasih dan syukur kepada orang yang telah memberiku nama ini. Benar-benar luar biasa! Apa yang dijelaskan oleh guruku itu ternyata juga telah mendapat legitimasi dari ayat suci al-Qur’an, firman Allah yang tidak perlu diragukan lagi kebenaran dan keotentikannya. Sebuah potongan ayat pada surat al-Anbiya ayat 30 menjadi saksi begitu istimewanya satu makhluk Allah yang bernama air, “... Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup ...”. Bukan hanya satu, dua atau tiga tapi Allah mengatakan segala sesuatu. Subhanallah!

Dari sinilah rasa kebingunanku berubah menjadi rasa syukur dan terima kasih tiada tara kepada kedua orang tua dan orang yang telah menyumbang nama untukku. Mungkin inilah maksud mereka para manusia luar biasa itu memberi nama bagiku, Niki Alma Febriana Fauzi. Dengan harapan agar aku bisa menjadi orang yang benar-benar luar biasa seperti yang terkandung dalam makna air.

Saudara-saudaraku tercinta, mulai sekarang jangan pernah berprasangka buruk dengan nama kita sendiri. Orang tua atau siapapun yang telah memberi nama kita, pasti punya harapan dan tujuan mulia. Tetap semangat dan bersyukur dengan apa yang ada pada diri kita.








Kaliurang, 12 Februari 2013.

Rabu, 02 Januari 2013

Menjadi Pemimpin yang dicintai Rakyat



Oleh: Nicky Alma Febriana Fauzi*

Seorang pemimpin di setiap elemen kehidupan merupakan sosok krusial (penentu) yang paling urgent keberadannya. Ia bisa diibaratkan seperti nahkoda kapal yang harus siap-siaga dalam setiap pelayaran guna bertanggung jawab atas kesejahteraan dan keselamatan seisi kapal. Mulai dari lingkup kecil, sosok ayah sebagai tulang puggung rumah tangga adalah pemimpin bagi setiap anggota keluarganya. Sementara di lingkup yang lebih besar (masyarakat), sosok lurah, bupati, gubernur dan juga presiden atau pemimpin negara merupakan sosok-sosok yang harus bertanggung jawab atas kesejahteraan para rakyatnya.

Menjadi sosok pemimpin yang dicintai anggotanya (baca: rakyat) adalah mimpi dan harapan besar dari setiap pemimpin. Hal ini dapat dimengerti karena salah satu parameter sederahana yang dapat digunakan untuk mengukur seorang pemimpin itu sukses atau tidak adalah dengan melihat respon serta kecintaan masyarakat kepadanya. Bila respon masyarakat kepadanya baik, maka bisa dipastikan pemimpin itu telah sukses dalam mengayomi para anggotanya. Namun sebaliknya, bila respon masyarakat kepadanya buruk, maka besar kemungkinan bahwa ia telah gagal dalam melaksanakan amanah sebagai pemimpin rakyat.Islam sebagai ‘pemimpin’ dan penyempurna bagi agama-agama sebelumnya, dalam sejarahnya telah mampu melahirkan sosok-sosok pemimpin yang dicintai rakyat. Contoh paling masyhur dan nyata adalah Nabi Muhammad saw, yang selain menjadi Rasul (utusan) juga menjadi pemimpin negara kala itu. Islam, melalui ‘tangan emas’ Rasulullah mampu mensejahterakan bahkan mengayomi semua lapisan masyarakat, tanpa memandang ras, suku bahkan agama. Rasulullah tidak hanya dicintai kaum muslimin, tapi lebih dari itu orang-orang non-muslim juga merasa mendapatkan perlindungan serta pengayoman di bawah payung kepemimpinannya.

Sosok pemimpin seperti inilah yang senantiasa dirindukan kehadirannya oleh umat. Sosok pemimpin yang bertanggung jawab, adil, jujur, tidak otoriter, berpihak kepada yang lemah dan merakyat. Meskipun sekarang Rasulullah telah tiada, namun paling tidak spirit kepemimpinan beliau dapat terus terwariskan ke dalam setiap diri pemimpin yang benar-benar berusaha meneladaninya. Dalam tulisan ini, penulis mencoba memaparkan beberapa hadis tentang pemimpin dan kepemimpinan serta kriteria-kriteria pemimpin yang dicintai rakyat.

Menumbuhkan kesadaran kepemimpinan dalam diri

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ أَلَا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Artinya: “Dari Abdullah (Ibn Umar) ra (berkata), Rasulullah saw bersabda: “Setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara akan diminta pertanggung jawaban  perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang isteri yang memelihara rumah tangga suaminya akan ditanya perihal tanggung jawab dan tugasnya (kepada anaknya). Bahkan seorang pembantu/pekerja rumah tangga yang bertugas memelihara barang milik majikannya juga akan ditanya dari hal yang dipimpinnya. Ketahuilah, kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya (diminta pertang jawaban) dari hal yang dipimpinnya.”

Hadis yang dibawa Ibnu Umar ini diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahih-nya (vol. 3, no. 2554, no. 2409, no. 2558, vol. 4, no. 2751, vol. 7, no. 5188, no. 5200) dengan beberapa varian matan yang berbeda, namun dengan subtansi yang tetap sama. Selain itu, hadis ini juga diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya (vol. 3, no. 1829), al-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Awsath (vol. 4, no. 3890), Malik dalam al-Muwatha’ (no. 991), Abu Dawud dalam Sunan-nya (vol. 3, no. 2930), al-Tirmidzi dalam Sunan-nya (vol. 4, no. 1705), al-Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman (no. 4881, no. 6975), Ibnu Hibban dalam Shahih-nya(vol. 10. No. 4489, no. 4490, no 4491) dan beberapa mukharrij lainnya dalam karya-karya mereka. Hadis ini tidak perlu diragukan lagi keotentikannya, karena diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim yang terkenal ketat dalam meriwayatkan hadis serta beberapa imam lainnya.

Satu pesan besar dari hadis ini adalah spirit tanggung jawab. Siapapun dia dan apapun profesinya, pada hakikatnya ia adalah pemimpin. Pemimpin yang akan dimintai pertanggung jawaban kelak di akhirat. Seorang suami akan ditanya tentang kepemimpinannya terhadap keluarga. Seorang istri akan ditanya tentang tugasnya dalam rumah tangga. Seorang penuntut ilmu akan ditanya tentang ilmu yang ia dapatkan. Seorang pemimpin negara juga akan ditanya tentang tanggung jawabnya terhadap rakyat yang dipimpinnya. Tanggung jawab dalam hal ini tidak semata-mata bermakna melaksanakan tugas saja, kemudian setelah itu tidak memberikan dampak apapun bagi yang dipimpin. Melainkan lebih dari itu, yang dimaksud tanggung jawab di sini adalah lebih kepada upaya seorang pemimpin untuk mewujudkan kesejahteraan bagi pihak yang dipimpinnya. Dengan menyadari bahwa setiap individu pada dasarnya adalah pemimpin (minimal bagi dirinya sendiri), niscaya akan tumbuh rasa tanggung jawab atas apa yang diamanahkan kepadanya.  Jika setiap orang telah tahu dan sadar bahwa apa yang ada padanya hanyalah titipan dan amanah, maka tentu ia akan berhati-hati dalam mengelola dan menggunakannya.

Pemimpin yang jujur

عَنْ الْحَسَنِ قَالَ عَادَ عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ زِيَادٍ مَعْقِلَ بْنَ يَسَارٍ الْمُزنِيَّ فِي مَرَضِهِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ قَالَ مَعْقِلٌ إِنِّي مُحَدِّثُكَ حَدِيثًا سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ عَلِمْتُ أَنَّ لِي حَيَاةً مَا حَدَّثْتُكَ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ 

Artinya: “Dari al-Hasan, ia berkata, ‘Ubaidullah ibn Ziyad mengunjungi Ma’qil ibn Yasar  yang sedang sakaratul maut. Kemudian Ma’qil berkata: aku akan memberitahumu sebuah hadis yang aku dengar langsung dari Rasulullah saw. Seandainya aku tahu kalau aku masih bisa hidup (setelah ini), maka aku tidak akan menceritkan ini kepadamu. Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “tiada seorang yang diamanati oleh allah memimpin rakyat  kemudian ketika ia mati ia masih menipu rakyatnya, melainkan pasti allah mengharamkan baginya surga.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahih-nya (vol. 9, no. 7150), Muslim dalam Shahih-nya (vol. , no. 142), Ibnu Hibban dalam Shahih-nya (vol. 10, no. 4495), al-Darimi dalam Sunan-nya (vol. 2, no. 2796), al-Baihaqi dalam al-Sunan al-Kubra (vol. 9, no. 18359) dan Syu’ab al-Iman (vol. 6, no. 6976), dan al-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir (vol. 20, no. 474).

Hadis di atas merupakan ancaman besar bagi para pemimpin yang tidak jujur. Para pemimpin yang senantiasa menipu rakyat demi keuntungan pribadi dan juga kelompoknya. Mereka yang tanpa merasa salah berbuat tidak jujur kepada rakyat ini diancam oleh Allah dengan haramnya surga. Bentuk keharaman ini menurut al-Manawi ialah dengan cara menundanya masuk surga (Al-Manawi, Faid al-Qadir, vol. 5, hal. 623). Begitu besar ancaman yang diberikan Allah kepada para pemimpin yang suka menipu rakyat, mengindikasikan betapa pentingnya kejujuran harus selalu ditegakkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Jujur adalah salah satu sifat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Seorang pemimpin yang jujur adalah ia yang dapat mengemban amanah tanpa harus takut bila suatu ketika rakyat yang dipimpinnya menuntut sikap transparansi tentang apa yang telah ia lakukan. Lebih jauh lagi, rasa kejujuran yang dimiliki oleh seorang pemimpin juga harus mampu menjadi stimulus bagi para ‘bawahan’nya untuk turut melestarikan kejujuran di tengah roda pemerintahan.

Memudahkan urusan dan menjadi pelayan rakyat

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ شِمَاسَةَ قَالَ أَتَيْتُ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَسْأَلُهَا عَنْ شَيْءٍ فَقَالَتْ أُخْبِرُكَ بِمَا سَمِعْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي بَيْتِي هَذَا اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ


Artinya: “Dari Abdurrahman bin Syamamah, ia berkata: aku mendatangi Aisyah istri Rasulullah saw untuk bertanya tentang sesuatu hal. Ia lantas berkata: aku akan memberitahumu tentang suatu berita yang pernah aku dengar dari Rasulullah saw, bahwasanya ia pernah bersabda di rumahku ini: Ya Allah, siapa saja yang menguasai sesuatu dari urusan umatku, lalu mempersukar urusan mereka, maka persukarlah baginya. Dan siapa yang mengurusi umatku lalu berlemah lembut pada mereka, maka permudahlah baginya.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya (vol. 3, no. 1828), Ibnu Hibban (vol. 2, no. 553), al-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Awsath (vol. 9, no. 9449), al-Baihaqi dalam al-Sunan al-Kubra (vol. 10, no. 20970), Abu ‘Awwanah dalam Musnad-nya (vol. 4, no. 7023), dan Ahmad dalam Musnad-nya (vol. 41, no. 24622).

Hadis ini menjelaskan tentang larangan bagi pemimpin yang suka mempersulit urusan rakyat (birokratis). Imam al-Nawawi dalam al-Minhaj memberikan sebuah penjelasan terkait hadis ini. Menurut beliau ada dua pesan yang terkandung dalam hadis dari Aisyah di atas. Beliau mengatakan bahwa hadis tersebut di satu sisi menunjukan larangan keras mempersukar urusan rakyat dan di sisi yang lain memberikan sebuah petunjuk tentang pentingnya berlemah lembut pada rakyat (dengan cara mempermudah urusannya) (Al-Nawawi, al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, vol. 12, hal. 212).

Sikap birokrat yang ditampilkan oleh para pemimpin kepada rakyatnya bisa jadi disebabkan oleh paradigma mereka yang masih menganggap bahwa pemimpin adalah penguasa. Paradigma seperti ini sesungguhnya adalah paradigma yang salah besar, karena pada hakikatnya seorang pemimpin sesungguhnya adalah pelayan bagi rakyatnya (Syamsul Anwar, Studi Hukum Islam Kontemporer, hal. 46). Pelayan dalam artian siap dan harus melayani hajat kebutuhan masyarakat umum tanpa terkecuali. Tidak membedakan dan memilah mana yang kaya dan mana yang miskin, mana yang termasuk kelompoknya dan mana yang bukan kelompoknya, mana yang masih saudara dan mana yang orang biasa. Petunjuk dari Rasulullah saw bahwa seorang pemimpin adalah pelayan yang harus melayani kebutuhan masyarakat terekam dalam sebuah hadis di bawah ini,

أَنَّ أَبَا مَرْيَمَ الأَزْدِىَّ أَخْبَرَهُ قَالَ دَخَلْتُ عَلَى مُعَاوِيَةَ فَقَالَ مَا أَنْعَمَنَا بِكَ أَبَا فُلاَنٍ. وَهِىَ كَلِمَةٌ تَقُولُهَا الْعَرَبُ فَقُلْتُ حَدِيثًا سَمِعْتُهُ أُخْبِرُكَ بِهِ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ مَنْ وَلاَّهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا مِنْ أَمْرِ الْمُسْلِمِينَ فَاحْتَجَبَ دُونَ حَاجَتِهِمْ وَخَلَّتِهِمْ وَفَقْرِهِمُ احْتَجَبَ اللَّهُ عَنْهُ دُونَ حَاجَتِهِ وَخَلَّتِهِ وَفَقْرِهِ .قَالَ فَجَعَلَ رَجُلاً عَلَى حَوَائِجِ النَّاسِ.

Artinya: “Bahwasanya Abu Maryam al-Azdi telah mengabarkan kepadanya, ia berkata: aku menemui Mu’awiyah, kemudian ia berkata: kenikmatan apakah yang diberikan kepada kami melaluimu wahai Abu fulan? Hal itu merupakan perkataan yang biasa diucapkan orang-orang Arab, kemudian aku katakan sebuah hadis yang aku dengar, aku akan mengabarkan kepadamu, aku telah mendegar Rasulullah saw bersabda: barangsiapa yang Allah ‘Azza wa Jalla serahkan kepadanya sebagian urusan orang muslim kemudian ia menutup diri dari melayani kebutuhan mereka dan keperluan mereka, maka Allah akan menutup diri darinya dan tidak melayani kebutuhannya serta keperluannnya.” Abu Maryam berkata: kemudian Mu’awiyah menjadikan seseorang untuk mengurusi kebutuhan-kebutuhan manusia.”

Hadis ini terekam dalam Sunan Abi Dawud (vol. 3, 2950) karya Abu Dawud, al-Sunan al-Kubra (vol. 10, no. 20755) dan Syu’ab al-Iman (vol. 9, no. 7000) yang keduanya karya al-Baihaqi. Hadis ini shahih menurut penilaian Nashirudddin al-Albani seperti yang ia tertulis dalam Shahih wa Dha’if Sunan Abi Dawud (no. 2948).

Hadis di atas dengan sangat jelas menerangkan tugas pemimpin sebagai pelayan rakyat, sekaligus ancaman bagi mereka yang tidak mau mengabdikan diri pada masyarakat. Dari kesadaran paradigma baru bahwa seorang pemimpin adalah pelayan bagi rakyat, diharapkan sosok-sosok pemimpin yang diamanahi tanggung jawab besar untuk dapat mengayomi masyarakat bisa lebih responsif, sehingga ia mampu mengenali kebutuhan masyarakat dan melayani mereka dengan ikhlas dan sebaik-baiknya.

Pemimpin harus adil dan tidak otoriter

Krisis keadilan adalah salah satu krisis bangsa kita saat ini. Banyak sekali orang-orang yang mempunyai uang dapat memperoleh bahkan ‘membeli’ keadilan dengan mudah. Tidak hanya itu, mereka yang beruang juga berkesempatan jauh lebih besar untuk mendapatkan peluang-peluang administratif seperti menjadi pagawai dan sebagainya. Sebaliknya bagi orang-orang orang yang tidak memiliki uang, keadilan dan peluang administratif buat mereka sangat mahal dan sulit (Syamsul Anwar, Studi Hukum Islam..., hal. 40).

Dari realita seperti itu, dapatlah kita definisikan secara sederhana bahwa pemimpin yang adil adalah pemimpin yang tidak membeda-bedakan rakyatnya. Ia tidak membedakan antara si kaya dan si miskin; semuanya mendapatkan haknya masing-masing secara proporsional. Bagi siapa saja pemimpin yang bersikap adil, Allah menjanjikan baginya pahala yang begitu besar, yaitu akan dinaunginya ia oleh Allah pada hari kiamat. Sebagaimana tertuang dalam hadis yang cukup masyhur di bawah ini,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ إِمَامٌ عَادِلٌ.... 

Artinya: “Dari Abu Hurairah, (ia) dari Nabi saw bersabda: “tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada hari kiamat, di mana pada hari itu tidak ada naungan kecuali naungan allah; yaitu imam (pemimpin) yang adil ....”.

Hadis ini diriwayatkan oleh banyak mukharrij, di antaranya Bukhari dalam Shahih-nya (vol. 1, no. 660, vol. 2, no. 1423, dan vol. 8, no. 6806), Muslim dalam Shahih-nnya (vol. 2. No. 1031), Ahmad dalam Musnad-nya (vol. 15, no. 9665), Malik dalam al-Muwaththa’ (vol. 5, no. 3505), Ibnu Hibban dalam Shahih-nya (vol.10, no. 4486), al-Baihaqi dalam al-Sunan-al-Kubra (vol. 2, no. 545).

Selain harus adil, seorang pemimpin juga tidak boleh otoriter. Keotoriteran seorang pemimpin inilah yang membuat ia tidak disenangi dan dicintai rakyat. Bahkan menurut Rasulullah seorang pemimpin yang otoriter merupakan sosok pemimpin yang paling buruk,

إنَّ شَرَّ الرِّعَاءِ الحُطَمَةُ فَإِيَّاكَ أنْ تَكُونَ مِنْهُمْ .... 

Artinya: “Sesungguhnya seburuk-buruk pemimpin (pemerintah) adalah yang kejam (otoriter), maka janganlah kau tergolong dari mereka.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya (vol. 3, no. 1830), Ibnu Hibban dalam Shahih-nya (vol. 10, no. 4511), Al-Baihaqi dalam al-Sunan al-Kubra (vol. 8, no. 17083), Abu ‘Awwanah dalam Musnad-nya (vol. 4, no. 7050).

Hadis ini merupakan sindirin bagi para pemimpin yang otoriter dan cenderung tidak mau mendengar aspirasi rakyat. Para pemimpin yang selalu bertindak sewenang-wenang dalam mengambil kebijakan, tanpa memikirkan baik-buruknya bagi yang dipimpin. Imam al-Nawawi menjelaskan bahwa para pemimpin (pemerintah) yang otoriter adalah para pemimpin yang kejam dalam melaksanakan tugasnya sebagai pemimpin, tidak mengayomi orang-orang yang dipimpinnya, bahkan satu sama lain saling bersaing (untuk mendapat kekuasaan) dengan cara yang tidak elok dan sehat (Al-Nawawi, al-Minhaj ..., vol. 12, hal. 216).

Demikianlah beberapa hadis yang membicarakan tentang kepemimpinan dan kriteria pemimpin yang dirindukan umat saat ini. Dengan kriteria seperti itu, niscaya siapapun yang menjadi pemimpin, rakyat akan mencintainya setulus hati. Sosok pemimpin seperti itulah yang diharapkan dapat mengentaskan bangsa ini dari berbagai macam krisis yang semakin melilitnya. Krisis kepemimpinan, keadilan, tanggung jawab dan kejujuran adalah serentetan krisis yang terangkai dalam sebuah label “krisis multidimensional bangsa”. Inilah pekerjaan rumah yang cukup berat bagi kita sebagai bangsa Indonesia. Namun, seberat apapun itu, bila ada kemauan dan kesadaran dalam pribadi kita masing-masing untuk memperbaiki dan menambal krisis-krisis tersebut, maka niscaya lambat laun bangsa kita akan menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Wallohu A’lam bi al-Shawab.

{Sumber: Majalah Suara Muhammadiyah no. 1 dan 2, (1-15 dan 16-31 Januari) tahun 2013}

*Alumni Pondok Pesantren Madrasah Wathoniyah Islamiyah Kebarongan dan mahasiswa Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah  Yogyakarta 


Rabu, 14 November 2012

Tahun Baru Hijriyah dan Semangat Tajdid


Tahun Baru Hijriyah dan Semangat Tajdid

Oleh: Nicky Alma Febriana Fauzi*

Setiap kali kita memasuki tahun baru hijriyah, maka setiap itu pula kita diingatkan kembali dengan sebuah memori tentang peristiwa hijrah Rasulullah saw dari kota Mekah menuju kota Islam pertama, Madinah. Dalam sejarahnya, orang pertama yang menetapkan peristiwa hijrah Nabi ini sebagai awal hari dari penaggalan Islam ialah khalifah Umar bin Khattab. Khalifah yang terkenal dengan keberaniannya ini, menetapkan peristiwa hijrah Nabi sebagai awal hari penanggalan Islam bermula dari beberapa usulan para sahabat yang lain. Ada empat usulan yang diberikan untuk dipertimbangkan menjadi awal mula penanggalan Islam. Pertama, hari kelahiran Nabi Muhammad saw. Kedua, hari diutusnya Nabi Muhammad menjadi Rasul. Ketiga, hari di mana Rasulullah beserta kaum muslimin hijrah dari kota Mekah menuju Madinah. Dan keempat, hari wafatnya Rasulullah saw. Setelah dimusyawarahkan bersama, dengan mempertimbangkan berbagai macam hal, akhirnya khalifah Umar bin Khattab memilih peristiwa hijrah Rasulullah ini menjadi awal hari dari penanggalan Islam, atau yang kemudian lebih dikenal dengan nama tahun hijriyah (‘Ali Muhammad al-Shalâbi, Amîrul Mu’minîn Umar ibn al-Khattâb, hal. 150 dan Ibnu Hajar al-‘Asqalâni, Fath al-Bârî, vol. 7, hal. 268).

Dari latar belakang penetapan penanggalan hiriyah yang didasarkan pada peristiwa hijrah Nabi, sesungguhnya ada makna filosofis yang terkandung di dalamnya. Selain peristiwa hijrah itu mengandung makna hijrah secara fisik (badaniyyah), mengadung pula pengertian hijrah hati (qalbiyyah). Oleh karena itu, Sebagai seorang muslim hendaknya kita dalam menyambut tahun baru Islam ini tidak dengan melakukan serangkaian perayaan yang sifatnya sia-sia apalagi sampai melakukan hal-hal yang dapat menjauhkan diri dari Allah swt.

Sebagai alternatif, salah satu cara paling efektif dalam rangka menyambut tahun baru hijriyah ialah dengan ber-muhasabah (introspeksi diri). Sudahkah kita berhijrah dari kebatilan menuju yang hak? sudahkah kita benar-benar melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar? Sudah sejauh mana diri kita mempersiapkan bekal untuk kehidupan di akhirat kelak?

Lebih dari itu, bila dicermati mendalam sebenarnya ada satu pelajaran yang tidak kalah penting, yang bisa kita ambil dari kebijakan Umar bin Khattab dalam menetapkan penanggalan Islam dan beberapa ijtihadnya yang lain. Pelajaran tersebut adalah pelajaran tentang pentingnya semangat tajdid (pembaruan) dimiliki oleh setiap muslim.

Tajdîd al-Niyyât wa al-Qulûb (Pembaruan niat dan hati)

Dalam rangka tahun baru hijriyah, pembaruan dalam masalah niat adalah yang terpenting. Niat, seperti yang diungkapkan para ulama fikih adalah suatu hal yang sangat urgent dalam segala macam aktifitas ibadah (lihat misalnnya Sayyid al-Sâbiq, Fiqh al-Sunnah, vol. 1, hal. 42 dan 72). Tidak hanya dalam masalah ibadah, dalam segala aktifitas manusia selama ia hidup, niat merupakan satu hal yang menentukan tujuan dari aktifitas yang akan ia lakukan.  Ini dikarenakan dalam satu kesempatan Rasulullah saw pernah bersabda,

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لِامْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Artinya: “Sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung pada niat, dan setiap orang itu tergantung pada apa yang ia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka (ia akan mendapatkan pahala) hijrah karena Allah dan Rasul-Nya. Namun barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ia kejar atau wanita yang hendak ia nikahi, maka ia hanya akan mendapatkan sesuai niat hijrahnya”.

Hadis tentang niat yang begitu masyhur ini diriwayatkan oleh banyak sekali mukharrij (penghimpun hadis) dalam berbagai karya mereka. Antara lain oleh Bukhari dalam Shahîh-nya (vol. 8, no. 6689 dan vol. 9, no. 6953), Muslim dalam Shahîh-nya (vol. 3, no. 1907), al-Baihaqi dalam al-Sunan al-Kubrâ (vol. 1, no. 184) dan Syu’ab al-Îmân (vol. 5, no. 6837), al-Thabrâni dalam al-Mu’jam al-Awsath (vol. 1, no. 40 dan vol. 7 no. 7050), Abû Dâwûd dalam Sunan-nya (vol. 2, no. 2203), Ibnu Mâjah dalam Sunan-nya (vol. 22, no. 4227), al-Nasai dalam Sunan-nya (vol. 1, no. 75, vol. 6, no. 3437 dan vol. 7, no. 3794), Ibnu Khuzaimah dalam Shahîh-nya (vol. 1, no. 142), Ahmad dalam Musnad-nya (vol. 1, no. 168) dan Abû ‘Awwânah dalam Musnad-nya (vol. 4, no. 7438).

Asbâb al-wurûd (sebab datangnya) hadis ini memang terkait dengan peristiwa hijrah yang dilakukan oleh Rasulullah bersama kaum muslimin dari kota Mekah menuju Madinah. Hal ini sangat terlihat dari matan (teks) hadis yang menyebutkan kata hijrah yang dihubungkan dengan niat seseorang tersebut. Di samping itu, Jalâluddîn al-Suyûthi dalam kitab-nya al-Luma’ fî Asbâbi Wurûd al-Hadîts juga menjelaskan perihal hadis ini. Diceritakan bahwa tatkala Nabi tiba di kota Madinah, para sahabat dilanda wabah demam. Kemudian ada salah satu sahabat yang berinisiatif menikahi seorang wanita yang ada di kota tersebut. Tak lama kemudian Rasulullah naik ke atas mimbar dan mensabdakan sebuah hadis terkait pentingnya niat seperti yang terdapat dalam riwayat di atas (Jalâluddîn al-Suyûthi, Al-Luma’ fî Asbâbi Wurûd al-Hadîts, hal. 30-31).

Kemudian apa kaitan antara tajdîd al-niyyât dengan tajdîd al-qulûb? Kaitannya ialah karena selain niat letaknya ada di dalam hati, juga karena hati adalah salah satu bagian dalam diri yang keberadaanya sangat menentukan baik tidaknya tingkah dan laku kita. Al-Nu’mân bin Basyîr meriwayatkan bahwasanya,

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشَبَّهَاتٌ لَا يَعْلَمُهَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ فَمَنْ اتَّقَى الْمُشَبَّهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ كَرَاعٍ يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يُوَاقِعَهُ أَلَا وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلَا إِنَّ حِمَى اللَّهِ فِي أَرْضِهِ مَحَارِمُهُ أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

Artinya: “Aku (Al-Nu’mân bin Basyîr) mendengar Rasulullah saw bersabda: Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya terdapat hal-hal musyabbihât (syubhat/samar, tidak jelas halal-haramnya), yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Barangsiapa yang menjaga hal-hal musyabbihât, maka ia telah membersihkan kehormatan dan agamanya. Dan barangsiapa yang terjerumus dalam hal syubhat, maka ia seperti penggembala di sekitar tanah larangan, hampir-hampir ia terjerumus ke dalamnya. Ketahuilah bahwa setiap raja mempunyai tanah larangan, dan ketahuilah sesungguhnya tanah larangan Allah adalah hal-hal yang diharamkan-Nya. Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ada sekerat daging. Apabila daging itu baik, maka seluruh tubuh itu baik; dan apabila sekerat daging itu rusak, maka seluruh tubuh itu pun rusak. Ketahuilah, dia itu adalah hati”. 

Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahîh-nya (vol. 1, no. 52), Muslim dalam Shahîh-nya (vol. 3, no. 1599), al-Baihaqi dalam dua karyanya; al-Sunan al-Kubrâ (vol. 5, no. 10703) dan Syu’abu al-Îmân (vol. 7, no. 5356), Ibnu Mâjah dalam Sunan-nya (vol. 2, no. 3984), al-Dârimi dalam Sunan-nya (vol, 2, no. 2531), Ahmad dalam Musnad-nya (vol. 30, no. 18374), serta beberapa mukharrij (penghimpun hadis) lain.

Dalam pembahasan kali ini yang perlu digaris bawahi dari hadis di atas ialah bagian ujungnya, yang menjelaskan tentang sekerat daging (hati) yang keberadaanya sangat berpengaruh bagi seluruh anggota tubuh. Ibnu Hajar al-‘Asqalâni menjelaskan mengapa dinamakan hati (al-Qalb), karena sifat dari hati itu sendiri ialah berbolak-balik (al-Taqallub) (Ibnu Hajar, Fath al-Bârî, vol. 1, hal. 128). Berbolak balik di sini memiliki arti tidak tentu dan tidak tetap, kadang benar dan kadang salah. Oleh karenanya selalu mengadakan pembaruan hati dengan cara memurnikan niat dan membersihkan hati dari hal-hal buruk yang dapat mengotorinya adalah termasuk dalam suatu rangkaian kegiatan yang dapat menjaga diri kita agar tetap istiqamah dan tunduk dalam ketaatan kepada-Nya.

Tajdîd al-Aqwâl wa al-Af’âl (pembaruan ucapan dan perbuatan)

Pembaruan dalam hal ucapan dan perbuatan (Tajdid al-Aqwâl wa al-Af’âl) bisa dimanifestasikan dalam beberapa wujud yang berbeda-beda. Segala macam bentuk perbaikan dalam hal ucapan dan tingkah laku juga dapat dikatakan sebagai wujud tajdid. Tidak jauh berbeda dari itu, setiap upaya yang diaplikasikan demi terwujudnya sesuatu yang positif termasuk juga dalam tajdid. Ada satu sabda Rasulullah yang bila dihubungkan dengan ini, akan membentuk satu pertalian yang menyimpulkan pada suatu kesimpulan tentang pentingnya tajdid al-aqwâl wa al-af’âl,

عَنْ أَبِي ذَرٍّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهُ اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقْ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Artinya: “Dari Abû Dzar, bahwasanya Nabi saw bersabda kepadanya: bertakwalah kamu di mana pun kamu berada. Dan ikutkanlah keburukan dengan kebaikan, niscaya itu (kebaikan) akan menghapuskannya (keburukan). Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik”.

Hadis yang dibawa sahabat Abû Dzar di atas terdapat dalam kitab Sunan al-Tirmidzi (vol. 4, no. 1987) karya Imam al-Tirmidzi, Sunan al-Dârimi (vol. 2, no. 2791) karya Imam al-Dârimi, Syu’abu al-Îmân (vol. 10, no. 7663) karya Imam al-Baihaqi dan Musnad Ahmad (vol. 35, no. 21354) karya Imam Ahmad. Selain oleh Abû Dzar, hadis yang senada juga dibawa oleh sahabat Mu’âdz bin Jabal, yang diriwayatkan antara lain oleh Imam al-Thabrâni dalam al-Mu’jam al-Kabîr (vol. 20, no. 296, 297 dan 298), Imam al-Baihaqi dalam Syu’abu al-Îmân (vol. 10, no. 7660 dan 7662) dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya (vol. 36, no. 22059).

Sanad-Sanad hadis tersebut oleh beberapa muhaqqiq (peneliti) kitab-kitab di atas dinyatakan hasan. Demikian pula penilaian Nâshiruddîn al-Albâni terhadap hadis ini sebagaimana terdapat dalam kitabnya, al-Jâmi’ al-Shahîh wa Ziyâdatuhu. Meskipun hanya hasan dan tidak sampai pada derajat shahih, hadis ini dapat diamalkan dan dijadikan hujah, karena sebagaimana mayoritas ulama hadis mengatakan bahwa hadis hasan adalah termasuk hadis yang makbul (dapat diterima sebagai hujah) (Nûruddîn ‘Itr, Manhaj al-Naqd fî ‘Ulûmi al-Hadîts, hal. 241).

Dalam matan hadis di atas terdapat kata “mengikutkan keburukan dengan kebaikan”. Menurut al-Mubârakfûrî, seorang ulama pen-syarh kitab Sunan al-Tirmidzi, menjelaskan bahwa kebaikan di situ mencakup amalan-amalan ibadah seperti salat, sadaqah, istighfar (mohon ampun kepada Allah) dan lain sebagainya atau dengan kata lain mencakup perkataan dan perbuatan yang bernilai ibadah (al-Mubârakfûrî, Tuhfah al-Ahwadzi bi Syarh Sunan al-Tirmdizi, vol. 6). Artinya, seseorang yang telah berbuat dosa diperintahkan untuk mengerjakan hal-hal yang baik sebagai bentuk tajdid untuk membersihkan dirinya dari ucapan dan perbuatan dosa yang ia lakukan. Meskipun begitu, hadis ini tidak dapat dimaknai serampangan dengan memahaminya bahwa selagi bisa dihilangkan dengan perbuatan baik, maka tidak perlu takut untuk berbuat dosa. Atau dengan istilah popular yang sering digunakan sebagai anekdot di tengah masyarakat, STMJ (salat terus maksiat jalan).

Menurut Syaikh al-‘Utsaimîn, kebaikan akan menghapuskan keburukan sebagaimana firman Allah dalam surat Hud ayat 114. Beliau menambahkan bahwa kebaikan yang paling utama, yang dapat menghapuskan dosa ialah dengan bertaubat kepada Allah (Muhammad al-‘Utsaimîn, Syarh Riyâdh al-Shâlihîn, hal. 69). Sehingga dengan demikian, istilah STMJ (salat terus maksiat jalan) yang sering dijadikan anekdot ini tidak dapat dibenarkan, karena salah satu syarat dosa akan diampuni ialah dengan bertaubat dan menyesalinya.

Tajdîd al-Afkâr (pembaruan pemikiran)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قاَلَ إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا

Artinya: “Dari Abu Hurairah, ia dari Rasulullah saw bersabda: sesungguhnya Allah akan mengutus untuk umat ini seorang mujaddid setiap seratus tahun sekali yang memperbarui agamanya”.

Hadis ini diriwayatkan oleh al-Thabrâni dalam al-Mu’jam al-Awsath (vol. 6, no. 6527) dan Abû Dâwûd dalam Sunan-nya (vol. 4, no. 4293). Sanad hadis ini shahih, sebagaimana yang disebutkan oleh al-Albâni dalam Misykâh al-Mashâbîh (vol. 1, no. 247) dan al-Silsilah al-Shahîhah (vol. 2, no. 599).
Âbâdî Abî Thayyib dalam ‘Aun al-Ma’bûd-nya ketika men-syarh (menjelaskan) hadis ini mengatakan bahwa Allah akan mengutus seseorang atau lebih untuk menjadi mujadid (pembaru) bagi agamanya setiap seratus tahun. Lebih lanjut, mujadid ini akan  bertugas menjelaskan sunnah kepada para pelaku bid’ah yang ada di dalam Islam (Âbâdî Abî Thayyib, ‘Aun al-Ma’bûd Syarh Sunan Abî Dâwûd, vol. 11).

Sepanjang perjalanan sejarah, seorang yang benar-benar mujadid (pembaru) selain mencerahkan umat, ia juga identik dengan sumbangan pemikiran baru yang ia tawarkan. Tentunya, tajdid dalam hal pemikiran ini bukan berarti membebaskan akal untuk sebebas-bebasnya. Namun, tetap berpegang pada pondasi pokok ajaran Islam.

Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim al-Jauzi, keduanya disebut-sebut sebagai mujadid karena ide pemikiran purifikasinya terhadap ajaran Islam ketika di tengah umat mereka banyak sekali penyelewengan akidah. Muhammad Abduh juga Muhammad Rasyid Ridha mendapat julukan mujadid berkat keintelektualitasan mereka dalam rangka memodernisasikan masyarakat Islam yang saat itu benar-benar terpuruk dalam keterbelakangan dan pada saat yang sama tetap konsisten menjaga kemurnian ajaran Islam. Ahmad Dahlan selain dikenal sebagai pendiri Muhammadiyah dengan gerakan purifikasinya itu, juga dikenal sebagai mujadid berkat pemikiran yang begitu cemerlang dalam bidang astronomi (baca: hisab) yang ia terapkan sebagai sebuah sarana pendukung dalam kesempurnaan ibadah.

Jauh sebelum mereka semua, sesungguhnya khalifah Umar bin Khattab, dengan berbagai macam ijtihad dan kebijakannya termasuk dalam menetapkan peristiwa hijrah Nabi sebagai penanggalan Islam, patut disebut sebagai mujadid brilian yang ada pada era sahabat. Pemikirannya yang begitu cemerlang terkait penetapan penanggalan Islam menjadikan dirinya dicatat dalam sejarah sebagai pendiri tonggak pertama dan utama sistem kelender Islam.
Di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat, tugas kita sebagai generasi penerus ialah melanjutkan tajdid Umar tersebut dengan mencanangkan kalender Islam pemersatu (Kalender Islam Internasional) sebagai solusi dari berbagai macam permasalahan yang muncul di tengah-tengah umat. Oleh karenanya, dalam rangka tahun baru hijriyah ini, marilah kita bersama-sama memikirkan bagaimana terwujudnya kalender Islam pemersatu yang amat dirindu-rindukan tersebut.

Kesimpulan

Dalam moment tahun baru hijriyah ini ada beberapa tajdid yang perlu umat Islam lakukan sebagai langkah kongkrit kita untuk lebih maju dan lebih baik. Ketiga tajdid di atas akan lebih optimal manakala setiap muslim mau bersama-sama merenunginya, dan yang terpenting adalah mau merealisasikannya. Hal ini bukan memberi pengertian bahwa tajdid hanya dilakukan ketika moment-moment tertentu, seperti pada moment tahun baru hijriyah ini. Karena sesungguhnya perintah untuk selalu memperbarui diri menuju sesuatu yang lebih baik tidak hanya pada kondisi, waktu dan tempat tertentu saja.
Hal lain yang perlu umat islam lakukan sekarang ialah ber-muhasabah (introspeksi) dengan cara menghitung-hitung apa yang telah kita lakukan dan persiapkan untuk hari esok (akhirat), sebagaimana yang telah Allah perintahkan dalam surat al-hasyr ayat 18. Sehingga jangan sampai nantinya kita menyesal karena kelalaian kita terhadap diri kita sendiri. Wallohu A’lam bi al-Shawâb.

*Alumni Pondok Pesantren Madrasah Wathoniyah Islamiyah Kebarongan dan mahasiswa Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah  Yogyakarta

Hadis Ahad Sebagai Hujah Akidah (Suatu Tinjauan atas Perspektif Muhammadiyah terhadap Hadis Ahad dalam Masalah Akidah)

Hadis Ahad Sebagai Hujah Akidah  (Suatu Tinjauan atas Perspektif Muhammadiyah terhadap Hadis Ahad dalam Masalah Akidah)

Oleh: Nicky Alma Febriana Fauzi

Telah menjadi kesepakatan bulat (ijmak) umat Muhammad bahwa hadis adalah salah satu dari dua sumber utama hukum Islam. Oleh karenanya, hadis sebagai demikian, menjadi suatu bagian yang tak terpisahkan dari seluruh macam aspek keagamaan, di mana ia membutuhkan dalil hujah sebagai alat legitimasi. Dari segi kualitas atau diterima-tolaknya, hadis dibagi menjadi makbul (diterima) dan mardud (ditolak) (Nuruddin ‘Itr, 1981: 241). Keduanya di-break down menjadi beberapa cabang yang cukup banyak. Sementara bila dilihat dari kuantitas jalur pewarta (rawi) atau cara sampainya kepada kita, hadis terbagi menjadi mutawatir, masyhur dan ahad (‘Ajjaj al-Khatib, 1989: 301-3), serta ada sebagian yang menganggap hanya dibagi menjadi mutawatir dan ahad (Mahmud Al-Thahan, 19-21).

Dalam kaitan hadis sebagai hujah dalam berbagai macam aspek keagamaan, para ulama sepakat menerima hadis mutawatir tanpa ada penyangkalan sedikitpun. Hal tersebut dikarenakan hadis mutawatir memberikan suatu kepastian yang sifatnya qath’i, wajib diyakini, karena disampaikan oleh sejumlah pewarta yang kuantitasnya banyak dari setiap generasi ke generasi, di mana secara kebiasaan, mereka tidak mungkin sepakat untuk berdusta. Lain halnya dengan hadis ahad yang hanya memberikan zhan (dugaan) yang sifatnya tidak pasti, karena hanya disampaikan oleh beberapa pewarta yang tidak sampai pada derajat mutawatir, dan bisa dimungkinkan ada berita yang didistorsi oleh seorang atau beberapa pewarta. Hal ini berdampak pada sebagian sikap umat Islam yang tidak menerima hadis ahad sebagai dalil dalam masalah akidah. Karena menurut mereka hadis ahad yang sifatnya zhan tidak dapat dijadikan dalil dalam hal-hal yang sifatnya qath’i, seperti akidah. Termasuk dalam kelompok ini adalah Muhammadiyah yang dengan tegas menyatakan bahwa dalam masalah-masalah yang berkaitan dengan akidah, hanya dipergunakan dalil-dalil yang mutawatir (Asjmuni Abdurrahman, 2010: 13 dan Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah, 2009: 22).

Sikap Muhammadiyah yang tidak menerima hadis ahad sebagai dalil dalam masalah akidah ini banyak dikritik oleh beberapa kalangan, baik dari intern maupun dari ekstern Muhammadiyah. Hal tersebut tidak lain karena akan berimplikasi terhadap hadis-hadis ahad yang ‘berbicara’ tentang akidah, namun statusnya dapat diterima (makbul). Menurut sebagaian mereka (para pengkritik), suatu ironi tersendiri ketika Muhammadiyah yang memiliki jargon “al-ruju’ ila al-qur’an wa al-sunnah” (kembali kepada al-Qur’an dan al-Sunah), malahan tidak mau menerima hadis makbul sebagai hujah agama, meskipun dalam hal akidah. Di satu sisi, konsistensi Muhammadiyah dalam mengaplikasikan prinsipnya tersebut juga banyak dipertanyakan. Artinya, ada sebagian pengkritik yang mensinyalir bahwa dalam hadis-hadis yang dijadikan hujah Muhammadiyah dalam masalah akidah tidak semuanya mutawatir.

Pada intinya, dari semua kritik yang pernah penulis dengar dan jumpai, ada yang sifatnya konstruktif ada pula yang hanya sekedar menyalah-nyalahkan tanpa memberi solusi sama sekali. Melalui tulisan ini, penulis sebagai kader muda Muhammadiyah mencoba memberikan ‘semacam’ sumbangsi ide dan gagasan - jikalau pantas dan layak dikatakan demikian - bagi organisasi yang telah turut berperan dalam membentuk kepribadian penulis.

Hadis Ahad dalam Perspektif Muhammadiyah

Muhammadiyah dalam anggaran dasarnya, seperti yang dikutip Syamsul Anwar, adalah suatu organisasi yang didirikan oleh Ahmad Dahlan (1869-1923) di Jogjakarta pada permulaan abad ke-20, persisnya tahun 1912 (1330 H). Muhammadiyah merupakan gerakan Islam, dakwah amar makruf nahi munkar, dan tajdid yang menjadikan al-Qur’an dan al-Sunah sebagai sumbernya (Syamsul Anwar, 2007: 313). Tidak mengherankan dengan identitas seperti itu acap kali ketika nama Muhammadiyah disebut, orang langsung mengidentikannya dengan gerakan tajdid yang memiliki jargon begitu masyhur, “al-ruju’ ilaa al-qur’an wa al-sunnah” (kembali kepada al-Qur’an dan al-Sunah). Dengan jargon ini pula, Muhammadiyah berusaha tidak berafiliasi dengan satu madzhab tertentu. Namun, pada saat yang sama Muhammadiyah tidak antipati dan tetap mengakomodir pendapat-pendapat madzhab sebagai pertimbangan.

Sebagai gerakan dakwah yang menangani pula pelbagai permasalahan yang muncul di tengah kehidupan sosial, Muhammadiyah memiliki suatu lembaga (Majelis) khusus yang memang bertugas menjawab dinamika-dinamika kemasyarakatan, baik yang berkaitan dengan keagamaan maupun muamalah. Lembaga ini sekarang bernama Majelis Tarjih dan Tajdid atau sering disebut masyarakat “Majelis Tarjih” saja, tanpa kata “tajdid” setelahnya. Majelis yang beberapa kali berubah nama ini dalam upayanya menjawab permasalahan-permasalahan yang memerlukan istinbath hukum, memiliki manhaj (metodologi) tersediri yang dianut. Manhaj Tarjih dalam satu sisi mengandung pengertian sumber-sumber pengambilan norma agama. Sumber-sumber tersebut adalah al-Qur’an dan al-Sunah al-Makbulah (Syamsul Anwar: 3-4). Di samping itu, Majelis Tarjih juga memiliki pokok-pokok manhaj yang menjadi dasar acuan dalam memandu aktifitas beristidlal. Salah satu dari pokok manhaj, yang juga menjadi pembahasan dalam tulisan ini adalah pokok manhaj nomor 5 (lima). Dalam pokok tersebut tertulis, “Di dalam masalah akidah (tawhid), hanya dipergunakan dalil-dalil yang mutawatir” (Asjmuni Abdurrahman, 2010: 13). Pokok manhaj Tarjih ini, dikuatkan dengan pernyataan yang terdapat dalam himpunan putusan Tarjih, “Inilah pokok-pokok ‘akidah yang benar yang terdapat dalam al-qur’an dan hadits dan dikuatkan oleh pemberitaan-pemeberitaan yang mutawatir” (Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah, 2009: 22).

Dari sini dapat ditarik benang merah tentang bagaimana sikap Muhammadiyah, dalam hal ini Majelis Tarjih, ketika memandang hadis ahad sebagai dalil istinbath. Paling tidak ada dua kesimpulan yang dapat penulis ambil. Pertama, selama hadis ahad tersebut makbul (dapat diterima), maka selama itu pula Majelis Tarjih meyakini bahwa hadis tersebut dapat dijadikan dalil. Kedua, pengeculian dilakukan Majelis Tarjih dalam masalah akidah. Menurut Majelis Tarjih, hadis ahad walaupun ia makbul (dapat diterima) tetap tidak bisa dijadikan dalil dalam masalah akidah. Karena dalam masalah ini hanya berita yang mutawatir sajalah yang dapat dijadikan hujah.

Hadis Mutawatir, Ahad dan Implikasinya (Faedahnya)

Hadis mutawatir adalah hadis yang diwartakan oleh sejumlah rawi dengan kuantitas banyak, dari setiap generasi ke generasi, di mana mereka secara kebiasaan tidak mungkin bersepakat untuk berdusta, serta pewartaan yang mereka lakukan ialah dengan disandarkan pada sesuatu yang dapat diindera (Nuruddin ‘Itr, 1981: 404, ‘Ajjaj al-Khatib, 1989: 301, al-Suyuthi, 2008: 390 dan Mahmud Al-Thahan, 19). Definisi ini diamini oleh semua ahli hadis, baik klasik maupun kontemporer. Sehingga mereka membuat syarat sebagai patokan kapan dan bagaimana sebuah hadis dapat dikatakan mutawatir, yang jumlahnya ada 4 (empat) poin. Pertama, diriwayatkan oleh banyak perawi. Kedua, perawi yang banyak ini ada pada semua tingkatan (thabaqat) sanad atau dengan kata lain dari awal hingga akhir sanad. Ketiga, secara kebiasaan mereka tidak mungkin sepakat berdusta. Keempat,  sandaran hadis mereka dengan menggunakan indera, seperti: kami melihat (raayna), kami mendegar (sami’na) dan lain sebagainya (Mahmud Al-Thahan, 19-20).

Mengenai poin pertama tentang kuantitas perawi terjadi perdebatan. Sejumlah ahli mematok jumlah tertentu mengenai batas minimal perawi dikatakan banyak. Al-Qadhi al-Baqilani, seperti dikutip al-Suyuthi, mengatakan jumlah minimalnya adalah lima rawi. Ada pula yang bependapat sepuluh, dua belas, dua puluh, empat puluh, jumlah pasukan thalut dan tentara badar dan masih banyak lagi batasan minimal yang mereka patok. Namun, menurut al-Suyuthi dalam Tadrib al-Rawi-nya, jumlah minimal yang dipilih adalah sepuluh rawi (al-Suyuthi, 2088: 391).

Para ulama sepakat bahwa hadis mutawatir memberikan suatu pengetahuan/ilmu (yufidu ‘ilm) yang sifatnya qath’i serta wajib diyakini (‘Ajjaj al-Khatib, 1981: 301, Nuruddin ‘Itr, 1981: 404). Atau bila penulis boleh katakan, hadis mutawatir harus diterima apa adanya (taken for granted) seperti kita menerima al-Qur’an. Dalam artian, tidak perlu lagi kita melakukan penelitian tentang kualitas dan keotentikannya.

Hadis mutawatir ada dua macam; mutawatir lafzhi dan mutawatir maknawi (Nuruddin ‘Itr, 1981: 405). Bila dibandingkan dengan jumlah hadis ahad, hadis mutawatir jumlahnya sangat sedikit. Konsekuensinya, tidak semua permasalahan yang muncul ditengah umat dapat ter-cover oleh hadis mutawatir an sich. Oleh karenanya, berdalil dengan hadis ahad yang makbul adalah suatu tuntutan dan kebutuhan yang dharuri dalam rangka untuk memecahkan pelbagai permasalahan di tengah umat.

Adapun hadis ahad adalah hadis yang tidak memenuhi syarat-syarat hadis mutawatir (‘Ajjaj al-Khatib, 1981: 302 dan Mahmud Al-Thahan, 21). Hadis ahad bila dilihat dari segi kuantitas jalur pewarta, seperti dikemukakan oleh para ahli hadis, terbagi menjadi hadis masyhur, ‘aziz dan gharib (Mahmud Al-Thahan, 21). Dilihat dari segi ini, hadis ahad tidak membahas masalah kualitas dan keontetikan. Sehingga dari ketiga varian hadis ahad tersebut sangat dimungkinkan terdapat hadis-hadis yang berstatus makbul (diterima) dan mardud (ditolak), tergantung pada pewarta-pewartanya bersambung dan kredibel serta memiliki kapasitas atau tidak.

Bila hadis mutawatir telah disepakati dapat memberikan suatu pengetahuan yang sifatnya qath’i, maka hadis ahad masih diperdebatkan apakah ia memberikan suatu pengetahuan yang qath’i atau zhanni. Paling tidak ada tiga pendapat dalam hal ini.
  1. Pertama, adalah pendapat yang mengatakan bahwa hadis (ahad) yang ‘adl (kredibel) dapat memberikan suatu pengetahuan (‘ilm) yang qath’i.
Kelompok ini terlihat mengidentikan hadis ahad di sini dengan hadis yang shahih, sehingga mereka pun mematok dua syarat ketika suatu hadis dapat memberikan suatu pengetahuan yang qath’i. Yaitu ketika hadis tersebut memenuhi syarat-syarat hadis shahih dan telah diterima oleh umat sebagai suatu aksioma, seperti misalnya hadis tentang sepuluh orang sahabat yang dijamin masuk syurga. Menurut mereka, hadis ini telah diterima umat sebagai kebenaran yang sifatnya pasti dan tidak perlu diragukan lagi. (al-Jibrin, 1987: 57) .

Pendapat pertama ini dipegangi oleh Imam Ahmad, Dawud al-Zhahiri (Hasan Shabari: 8), mayoritas ahli hadis dan fikih dari kalangan empat madzhab besar Islam dan beberapa ulama yang lain, seperti al-Qadhi dan Syaikh Taqiyudin. Berkaitan dengan hal ini, al-Qadhi mengatakan, “Hadis ahad dapat memberikan suatu pengetahuan yang qath’i ketika sanadnya shahih, tidak menyelisihi riwayat yang lain serta telah diterima oleh umat sebagai suatu berita yang makbul”. (al-Jibrin, 1987: 60). Di era kontemporer, pendapat ini diamini oleh kalangan ahli hadis, semisal Muhammad Syakir dan Nashiruddin al-Albani (al-Qaradhawi, 2002: 92, al-Albani: 10).

Di samping itu, abdurrahaman al-Jibrin, seorang pakar hadis kontemporer juga mengumpulkan 19 argumen yang di ajukan oleh kelompok yang berpendapat hadis ahad dapat memberikan suatu pengetahuan yang qath’i.

2. Kedua, pendapat yang mengatakan bahwa hadis ahad dapat memberikan suatu pengetahuan yang qath’i dengan syarat ada qarinah yang menyertainya.
Pendapat ini dianut oleh sebagian ulama hadis, ushul fikih dan ahli kalam, diantaranya imam al-Amidi, al-Baqilani, Ibnu al-Hajib dan lain sebagainya, termasuk yang terkenal adalah Ibnu Shalah (al-Jibrin, 1987: 77, al-Qaradhawi, 2002: 92). Qarinah yang mereka maksud ada dua macam; muttashilah (bersambung) dan munfashilah (terpisah). Qarinah muttashilah maksudnya ialah qarinah yang masih berkaitan dengan hadis itu sendiri, seperti keadaan para pewartanya, isi hadis dan juga kita sebagai penerima hadis. Mereka mensyaratkan hadis yang dapat memberikan suatu pengetahuan yang sifatnya qath’i adalah hadis yang diwartakan oleh para pewarta yang kredibel dan memiliki kapasitas serta isi hadisnya pun harus bisa dipastikan bahwa itu datang dari Rasulullah (al-Jibrin, 1987: 77-8).

Adapun qarinah munfashilah di sini adalah qarinah yang sama sekali tidak berkaitan dengan hadis yang menjadi objek kajian dalam masalah ini. Mereka yang mengajukan syarat qarinah ini (munfashilah) adalah para ahli kalam. Sehingga dalam beberapa kitab ilmu hadis yang penulis rujuk tidak memberikan informasi yang cukup signifikan mengenai hal ini. Namun, menurut penulis antara pendapat pertama yang mengatakan hadis (ahad) yang ‘adl dapat memberikan suatu pengetahuan yang qath’i dengan pendapat kedua ini tidak ada perbedaan yang cukup menadasar dan substansial. Mereka sama-sama mensyaratkan hadis yang bersangkutan diwartakan oleh para pewarta yang kredibel dan memiliki kapasitas. Bedanya pendapat kedua di tambah qarinah munfashilah yang diajukan oleh para ahli kalam.

3. Ketiga, pendapat yang mengatakan hadis ahad hanya memberikan suatu pengetahuan yang sifatnya zhan (dugaan)
Ulama yang dengan terang menyatakan bahwa hadis ahad tidak memberikan suatu pengetahuan yang qath’i, namun hanya berfaedah zhan (dugaan) adalah imam al-Ghazali (al-Jibrin, 1987: 84) dalam karyanya, “al-Mushtashfa min ‘Ilm al-Ushul”. Lebih lanjut, dalam karyanya tersebut, ia mentakwil pendapat kelompok yang meyakini bahwa hadis ahad dapat memberikan suatu pengetahuan yang qath’i. Dalam takwilan al-Ghazali, ada dua kemungkinan hadis ahad bisa dikatakan memberikan suatu pengetahuan yang qath’i; pertama, yang dimaksud demikian (hadis ahad berfaedah ‘ilm) adalah dengan wajib mengamalkannya; atau kedua, bisa jadi yang dimaksud ‘ilm (pengetahuan yang qath’i) di situ adalah zhan (dugaan), karena biasanya zhan (dugaan) dapat berarti pula ‘ilm (pengetahuan yang qath’i) (al-Ghazali, t.t: 179-180).

Abdurrahman al-Jibrin dalam kitabnya, “Akhbar al-Ahad fi al-Hadits al-Nabawi”, mengkritisi dan juga menyayangkan sikap Imam al-Ghazali dan para ulama yang berpendapat bahwa hadis ahad hanya memberikan suatu pengetahuan yang zhan. Menurutnya, mereka sampai pada kesimpulan seperti ini karena kesibukan mereka yang hanya berkutat pada pembahasan yang berkaitan dengan ilmu kalam belaka. Ia juga menyayangkan sikap para ahli hadis, seperti imam al-Nawawi dan Ibnu al-Atsir yang menukil pendapat imam al-Ghazali ketika mentakwil pendapat kelompok yang meyakini bahwa hadis ahad dapat memberikan suatu pengetahuan yang qath’i tersebut.

Kontroversi Hadis Ahad sebagai Dalil dalam Akidah

Kontroversi tentang apakah hadis ahad dapat dijadikan hujah dalam masalah akidah atau tidak sesungguhnya berawal dari perdebatan tentang apakah hadis ahad itu berfaedah qath’i atau zhanni. Perdebatan yang belum sampai pada kata sepakat ini berimplikasi pada sikap mereka dalam mengambil hadis ahad sebagai hujah. Bagi mereka yang berpendapat bahwa hadis ahad dapat memberikan suatu kepastian yang qath’i tentu berpendapat bahwa hadis ahad dapat dijadikan hujah akidah. Sebaliknya, mereka yang berpendapat bahwa hadis ahad hanya memberikan suatu pengetahuan yang sifatnya zhanni akan menolak kehujahan hadis ahad dalam masalah akidah. Belum lagi ketika ditambah persoalan pendefinisian akidah yang belum juga sampai pada mufakat. Ada sebagian yang menganggap bahwa akidah adalah hal-hal yang hanya terkait dengan keyakinan saja. Namun, ada juga yang menyatakan bahwa akidah tidak hanya sebatas itu, karena akidah dituntut pula tindakan praksis sebagai bentuk aplikasi dari apa yang diyakini seseorang. Semua faktor inilah yang menyebabkan perbedaan di kalangan para ulama. Pada prinsipnya, mereka semua mengemukakan pendapat masing-masing dengan disertai argumen dan penjelasan.

Perlu diketahui bersama, upaya moderasi untuk mengkompromikan pendapat-pendapat yang berbeda itu, coba dilakukan oleh Yusuf al-Qaradhawi. Walaupun mungkin tidak secara eksplisit, namun menurut penulis apa yang dilakukan Yusuf al-Qaradhawi ketika mengklasifikasikan akidah dalam bukunya “al-Sunnah Mashdaran lil Ma’rifah wa al-Hadharah” bisa diaggap sebagai upaya pengkompromian. Dalam bukunya itu, ulama yang memang terkenal dengan kemoderatannya ini, mengklasifikasikan akidah menjadi dua; akidah asasi (al-‘aqidah al-asasi) dan akidah furu’i (al-‘aqidah al-furu’i). Dimaksud yang pertama adalah pokok-pokok akidah dan rukun-rukunnya, seperti keimanan kepada Allah, meyakini keesaan-Nya, mengakui nabi muhammad sebagai utusan-Nya, yakin akan adanya hari kebangkitan, dan lain sebagainya. Untuk akidah ini telah ada penjelasannya dalam al-Qur’an dan memang ia telah cukup sebagai landasan dalil dalam masalah ini. Kalaupun ada hadis yang menjelaskan kembali, maka itu sifatnya sebagai penguat (ta’kid) dan perinci (tafshil).  (al-Qaradhawi, 2002: 94-9)
Adapun dimaksud yang kedua adalah akidah yang sifatnya furu’i, sehingga bisa (baca: cukup) ditetapkan dengan hadis yang shahih, seperti pertanyaan dua malaikat di alam kubur, siksa dan nikmat kubur, syafa’at bagi para pelaku dosa besar kelak di hari kiamat, dan lain sebagainya. Satu syarat yang dikemukakan pula bahwa macam akidah ini harus bisa dinalar akal (dilogikakan). (al-Qaradhawi, 2002: 95).

Apakah Muhammadiyah konsisten dengan prinsipnya?

Meskipun belum terlalu gamblang bagaimana Muhammadiyah sesungguhnya mendefinisikan akidah, namun dari apa yang dipaparkan di atas bisa diterka secara teoritis bagaimana akidah yang dipahami dalam ruang lingkup yang lebih simplistis. Maka, pertanyaan yang menjadi sub-judul ini patut diajukan kepada Muhammadiyah. Dalam produk tarjihnya, khususnya dalam Himpunan Putusan Tarjih (HPT), bisa ditelusuri permasalahan yang sangat erat kaitannya dengan akidah. Karena akidah identik dengan keyakinan, tentunya memilih Kitab Iman sebagai fokus pembahasan adalah pilihan yang sangat tepat dan relevan. Penulis dalam hal ini tidak akan meneliti satu persatu hadis yang ada dalam kitab iman, selain akan memakan waktu yang cukup lama, penelitian yang dilakukan oleh DR. Kasman tampaknya telah bisa menjadi tolok ukur untuk menjawab pertanyaan di atas, apakah Muhammadiyah konsisten dengan prinsipnya?

DR. Kasman adalah seorang pengajar ilmu hadis pada beberapa perguruan tinggi di Jawa Timur, tepatnya di kota Jember dan sekitarnya. Selain pengajar, beliau adalah seorang mantan ketua Majelis Tarjih Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jember dan sekarang diamanahi sebagai ketua umum pada Pimpinan Daerah yang sama. Dalam buku “Hadits dalam Pandangan Muhammadiyah” yang berasal dari disertasinya, beliau telah meneiliti hadis-hadis yang dijadikan rujukan dalam HPT. Berdasarkan penelitiannya, ada 6 dari 11 hadis yang dijadikan dalil dalam Kitab Iman berstatus ahad, dan oleh karenanya tidak bisa dikatakan mutawatir. Belum lagi, ada dua hadis dha’if yang ditemukan dalam persoalan ibadah - berdasarkan penelitiannya - dengan mengacu kepada kaidah-kaidah kehadisan yang dibuat oleh Muhammadiyah (Kasman, 2012: 399-400). Dari penelitian tersebut, terlihat sikap Muhammadiyah yang kurang konsisten dalam menerapkan prinsipnya sendiri, yaitu hanya berhujah dengan hadis mutawatir dalam masalah akidah. Kekurang konsistenan ini menurut penulis bisa disebabkan beberapa faktor, baik yang sifatnya sarana penunjang, seperti keterbatasan kitab yang dirujuk pada saat perumusan HPT, maupun yang sifatnya teoritis, seperti belum jelasnya apa yag dimaksud akidah menurut perspektif Muhammadiyah.

Catatan Penutup dan Saran

Dari pemaparan di atas, menurut hemat penulis, Muhammadiyah perlu kiranya mengkaji ulang apa yang telah ditetapkan sebagai prinsip berhujah, kaitannya dengan hadis ahad dalam masalah akidah. Memang boleh jadi sikap Muhammadiyah yang hanya menerima hadis mutawatir dalam masalah akidah ialah demi menjaga kesucian dan kemurnian akidah dari hal-hal yang dapat mengotori dan merusaknya. Namun  selain implikasinya Muhammadiyah akan dilabeli tidak konsisten, juga dengan sikapnya itu Muhammadiyah akan berhadapan dengan problem yang hubungannya dengan otoritas sunah sebagai sumber primer kedua setelah al-Qur’an. Akan banyak hadis-hadis makbul (baca: shahih) yang berbicara tentang akidah tidak diterima (baca: ditolak) oleh Muhammadiyah. Wallahu a’lam bi al-shawab.

(Tulisan ini terinspirasi dan khusus saya dedikasikan untuk al-mukarram al-ustadz Teuku Ismail Thaib, yang beberapa hari lalu genap berumur 80 tahun)

Sumber Acuan

Syamsul Anwar, Studi Hukum Islam Kontemporer, Jakarta: RM Books, 2007.

                           , Manhaj Tarjih dan Metode Penetapan Hukum Dalam Tarjih Muhammadiyah. (Makalah disamapaikan pada Acara Pelatihan Kader Tarjih

Nasional, 20-01-2012 di Universitas Muhammadiyah Magelang).

 ‘Itr, Nûruddîn Manhaj al-Naqd fî ‘Ulûm al-Hadîts, Damaskus: Dâr al-Fikr, 1401/1981.

Al-Khatîb, ‘Ajjâj, Ushûl al-Hadîts: ‘Ulûmuhu wa Mushthalahuhu, Beirut: Dar al-Fikr, 1409/1989.

Al-Thahân, Mahmûd, Taysîr Musthalah al-Hadîts, Ttp.: Dâr al-Fikr, t.t.

Asjmuni Abdurrahman, Manhaj Tarjih Muhammadiyah: Metodologi dan Aplikasi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010.

Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah, cet. Ke-3, Yogyakarta: Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 2009.

Sayûthî, Jalâluddîn ‘Abd al-Rahmân ibn Abî Bakr al-, Tadrîb al-Râwî fî Syarh Taqrîb al-Nawawî, edisi Abî Ya’qûb Nasy’at ibn Kamâl al-Mishrî, Kairo: Dâr al-‘Aqîdah, 1429/2008.

Jibrîn, ‘Abdullâh ibn ‘Abd al-Rahmân al-, Akhbâr al-Âhâd fî al-Hadîts al-Nabawî: Hujjiyatuhâ, Mafâduhâ, al-‘Amalu bi Mûjibihâ, ttp.: t.p., t.t.

Shabarî, ‘Âmir Hasan, Hujjiyah Khabar al-Âhâd fî al-‘Aqâ’id wa al-Ahkam, ttp.: t.p., t.t.

Qaradhâwî, Yûsuf al-, Al-Sunnah Mashdaran li al-Ma’rifah wa al-Hadharah, Kairo: Dâr al-Syurûq, 1423/2002.

Albânî, Muhammad Nâshiruddîn al-, Al-Hadits Hujjiyah bi Nafsih fi al-‘Aqâ’id wa al-Ahkam, ttp.: t.p., t.t.

Ghazâlî, Abû Hâmid Muhammad ibn Ahmad al-, Al-Mushtashfâ min ‘Ilm al-Ushûl, edisi Hamzah ibn Zuhair Hâfizh, ttp., t.t.

Kasman, Hadits dalam Pandangan Muhammadiyah, Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2012.