Selasa, 01 Juli 2014

Kontroversi Seputar Visualisasi Sahabat Nabi dalam Serial “Omar”

(Tulisan ini adalah tulisan lama dari salah seorang dosen saya, Muhammad Rofiq, sekitar setahun yang lalu, tepatnya Ramadan 1434 H, ketika pertama kali  serial "Omar" ini dirilis. Meskipun tulisan lama, tapi relevansi pesan dari tulisan ini nampaknya masih dapat dirasakan sampai hari ini. Selamat membaca!)

Bulan Ramadan yang lalu, penonton televisi di Indonesia dihibur oleh suatu drama kolosal yang mengangkat kisah sahabat nabi senior, khalifah kedua dan pemimpin ekspansi terbesar dalam sejarah Islam, Umar bin Khattab. Kehadiran serial ini sesungguhnya ibarat datangnya air bagi orang-orang yang kehausan di tengah padang pasir. Serial ini memberikan pencerahan bagi publik dan membawa warna baru bagi tayangan-tayangan televisi di tanah air yang semakin tidak jelas orientasinya. Serial ini menghibur, mengekplorasi sejarah, menampilkan teladan dan sekaligus menggugah semangat umat Islam untuk beragama dengan lebih baik.

Selain di tanah air, serial berjudul “Omar” ini juga mendapatkan apresiasi yang sangat positif di dunia internasional. Serial ini diputar selama bulan Ramadan di hampir seluruh negara Arab dengan jumlah penonton yang signifikan. Sebuah berita di internet menyebutkan bahwa pada saat pemutaran perdananya di awal Ramadan, serial ini menarik sampai 6 juta penonton di dunia Arab. Angka yang cukup fantastis untuk sebuah tayangan televisi yang disiarkan di waktu sahur. Di luar Arab, negara yang menayangkan serial Omar adalah Turki (melalui stasiun ATV) dan Indonesia (melalui stasiun MNCTV) dengan diterjemahkan ke bahasa lokal. Di dunia maya, serial ini juga telah diunduh ribuan kali dari situs youtube oleh para pengguna internet.  

Namun, selain menerima sambutan positif, serial ini juga menerima sambutan negatif dan penolakan dari sebagian kalangan. Beberapa lembaga keagamaan, seperti Universitas al-Azhar Mesir dan Lembaga Fatwa Arab Saudi bahkan mengeluarkan fatwa haram untuk pemutaran dan penayangannya. Di Uni Emirat Arab (UEA), isu tentang serial Omar juga menjadi komoditas politik, di mana menteri luar negeri dari negara tersebut juga ikut berbicara menyerukan pemboikotan. Di Riyadh, Arab Saudi, kantor perwakilan MBC (stasiun televisi yang memproduksi serial ini) mendapatkan ancaman pembakaran. Di internet bermunculan opini-opini penolakan, diantaranya bahkan ada yang sampai melakukan aksi penggalangan melalui sebuah akun facebook untuk menghentikan serial ini.

Dari pengamatan penulis melalui internet terhadap situs-situs berita dunia Arab, terdapat polarisasi yang sangat esktrem dalam menyikapi serial ini, antara pihak yang menyambut positif dan pihak yang bersikap antipati. Polarisasi itu terjadi terutama karena perbedaan persepsi mengenai persoalan visualisasi sejarah Islam, khususnya periode nabi, dan personifikasi sahabat beliau.

Para ulama yang menolak serial ini berpandangan bahwa peristiwa bersejarah dan monumental yang diperankan oleh sahabat nabi bukan untuk divisualisasikan, tetapi untuk dipelajari dan diambil hikmahnya. Apalagi mengingat posisi para sahabat nabi yang sangat mulia, tidak akan mungkin manusia di zaman sekarang mampu merekonstruksi kehebatan dan perjuangan mereka dalam membela dan menegakkan agama Islam. Menurut para ulama yang menolak, film yang memvisualisasi sahabat nabi dinilai hanya akan merusak (mendistorsi) kemuliaan para sahabat nabi. Jika umat Islam mau mengetahui dan meneladani mereka, dalam pandangan sebagian ulama tersebut, umat Islam seharusnya membaca buku-buku sejarah, bukan justru membuat film. Fatwa haram juga dikeluarkan sebagai langkah preventif (saddu al-dzari’ah) agar tidak muncul tindakan yang lebih berani. Ada ketakutan dan kekhawatiran bahwa suatu ketika kisah para nabi pun nanti akan difilmkan. Seorang penulis Arab dalam sebuah artikel menyatakan, “jika hari ini sahabat nabi yang difilmkan, bukan tidak mungkin besok isi al-Quran juga akan difilmkan”. Kekhawatiran tersebut sesungguhnya sudah terjadi. Sejak Ramadan tahun lalu, publik Arab sebenarnya sudah menyaksikan penayangan film “Yusuf al-Shiddiq” yang menampilkan kisah nabi Yusuf As. 

Selain penolakan, adapula yang mengajukan kritik konstruktif mengenai aspek teknis dalam film ini. Misalnya ada sorotan mengenai beberapa dialog yang tidak akurat, kesalahan rekonstruksi suasana kota Makkah dan Madinah pada abad ke 7 masehi, ketidaktepatan dalam pemilihan artis yang memerankan figur sahabat nabi, pengabaian beberapa segmen sejarah yang justru krusial untuk dimunculkan, dan kritik untuk kegagalan serial Omar dalam menampilkan peran sentral masjid sebagai tempat yang digunakan nabi untuk mendidik sahabatnya.

Sedangkan pihak yang mengapresiasi positif, menyebutkan bahwa serial ini telah melakukan dua lompatan prestasi sekaligus, yaitu lompatan di dunia perfilman dan lompatan di aspek keagamaan (fikih). Nidhal Geussoum, seorang astronom ternama, mengapresiasi serial ini dengan menulis di akun facebooknya : “Ramadan tahun ini memberikan suatu hadiah yang amat berharga bagi keluarga muslim, yaitu film berjudul “Omar”. Saya sebenarnya orang yang jarang menonton film berseri, tetapi film ini benar-benar layak untuk diikuti dan didukung. Kualitas produksi yang tinggi, dialog yang mengagumkan dan akting yang luar biasa. Lebih dari itu, yang paling penting adalah nilai yang disuguhkan oleh film ini, diantaranya adalah keadilan, persamaan, toleransi terhadap non-muslim, musyawarah dan introspeksi diri”.

Dari aspek perfilman, memang harus diakui bahwa serial ini dibuat dengan kualitas yang sangat tinggi. Seperti ditulis dalam web resmi stasiun MBC, pembuatan serial Omar melibatkan 30.000 aktor kawakan dari 10 negara dan menelan biaya produksi sebesar 100 juta dolar Amerika. Dialog yang muncul dalam film ini tidak ditulis berdasarkan fiksi, melainkan digali dari sumber-sumber sejarah yang terpercaya (al-mashadir al-tarikhiyyah al-mautsuqah). Tidak cukup sampai di situ, untuk memastikan akurasi cerita dan legalitas syariahnya, serial ini juga diawasi langsung oleh satu komite syariah yang berisikan ulama-ulama senior kaliber dunia, diantaranya Dr. Yusuf Qardlawi, Dr. Salman Audah (perwakilan pakar syariah) dan Dr. Ali Shalabiy dan Dr. Akram Dhiya al-Umari (perwakilan pakar sejarah). Dr. Walid Saif, sang penulis skenario serial ini sendiri adalah seorang sastrawan ulung, alumni University of London, yang juga telah berpengalaman menulis skenario film-film sejarah kolosal. Sedangkan Samir Ismail yang memainkan peran sebagai sahabat Umar dalam serial tersebut adalah seorang alumni institut seni drama dari Syiria. Untuk dapat menghayati peran secara maksimal ia mengaku bahwa ia membaca sepuluh literatur sejarah mengenai sahabat Umar bin Khattab.Dari aspek keagamaan, serial ini dianggap telah menampilkan wajah Islam yang orisinil, Islam yang menjunjung tinggi nilai keadilan, persamaan dan kerahmatan bagi semesta alam. Serial ini juga dianggap relevan untuk menjawab distorsi sejarah Islam yang selama ini dilakukan oleh dunia Barat dan sekte-sekte Islam yang menyimpang, seperti sekte Syiah. Selain itu, serial Omar dinilai telah menjadi satu model dari bagaimana konsep fikih Islam mengenai entertainment (fiqh al-lahwi wa al-tarwih) yang bersifat teoretis dibumikan ke ranah praksis (tajsidu al-fiqh ilal waqi). Yang lebih penting lagi, serial ini dianggap telah mendobrak kejumudan fikih Islam. Selama lebih 14 abad, fikih (aturan mengenai yurisprudensi Islam) berada dalam kegamangan menyikapi persoalan visualisasi sahabat nabi. Memang pada tahun 1976, sebagian ulama dan institusi keagamaan telah mengizinkan film The Message (disutradarai oleh almarhum Mustafa Akkad) yang menampilkan sebagian sahabat nabi untuk diluncurkan. Hanya saja, pada saat itu para ulama masih melarang untuk menampilkan secara visual sahabat-sahabat senior, terutama sepuluh orang sahabat yang dijanjikan masuk surga (al-‘asyrah al-mubassyarun bi al-jannah). Namun, setelah melihat perkembangan aktual dari dakwah Islam dan menimbang (muwazanah) aspek maslahat dan mafsadat, para ulama akhirnya melakukan satu pembaruan (reposisi) pandangan keagamaan. Mereka menyadari bahwa bertahan pada pendapat lama justru akan mengabaikan kemaslahatan yang jauh lebih besar.   

Berangkat dari kontroversi yang merebak pasca munculnya serial Omar, ada beberapa pelajaran penting yang dapat kita ambil. Pertama, pentingnya orientasi yang jelas dalam pembuatan film. Selain dapat menghibur dan harus memiliki kualitas yang tinggi, sebuah film juga semestinya bersifat edukatif dan dapat membangkitkan kesadaran beragama para penontonnya. Maka menurut hemat penulis, berkaca pada serial Omar, industri perfilman di tanah air sudah seharusnya melakukan refleksi total agar kualitas film nasional dapat lebih baik lagi. Kita merindukan tayangan-tayangan yang mencerahkan, bukan sekedar banyolan, tayangan gosip, mistis atau drama dengan kualitas rendahan yang justru semakin membodohkan. Kedua, fatwa atau opini para ulama adalah media yang efektif untuk melakukan pembaruan sosial. Suara ulama sangat menentukan dinamika Islam di kemudian hari. Oleh karena itu, para ulama selain harus mumpuni dan memiliki kualifikasi keilmuan (kafaah syariyaah), juga harus memiliki sifat progresif dan berwawasan jauh ke depan (visioner). Wallahu A’lam.



Sabtu, 22 Maret 2014

Mari Lebih Peduli Pada Air!

*
Hari ini bangsa dunia memperingati Hari Air (Arab: Alma) Sedunia (World Day for Water). Ini merupakan sebuah momentum agar kita lebih peduli lagi pada sumber daya yang satu ini. Air adalah sumber daya pokok yang dibutuhkan untuk kehidupan manusia dan keberlanjutan dunia. Tanpa air tidak akan ada kehidupan. Semua organisme yang hidup di dunia memiliki ketergantungan mutlak pada unsur air. Al-Qur’an sendiri menekankan pentingnya air dalam kehidupan dengan menyebutnya berkali-kali dalam pelbagai tempat. Penyebutan suatu entitas secara berulang dan berkali-kali dalam al-Qur’an menunjukkan tingkat urgensi entitas tersebut dalam kehidupan dan menuntut manusia memberikan perhatian serius terhadapnya. Berbagai masalah keairan yang muncul di negara kita hari ini adalah salah satu bukti bahwa bangsa kita masih belum menganggap bahwa air adalah sumber daya pokok yang amat penting. Tema tentang pentingnya air bagi kehidupan dan dunia harus menjadi agenda yang diprioritaskan kita bersama demi keberlangsungan manusia seluruhnya. Mari sama-sama menjadi manusia yang lebih peduli terhadap air!!#savewater #worlddayforwater

**
Kalau boleh menilai dan membandingkan budaya air kita dengan budaya air di beberapa negara, maka budaya air kita masih sangat jauh dari kata ideal. Kita dapat melihat kontras budaya air kita dengan budaya air bangsa Mesir misalnya. Orang-orang Mesir membangun rumah mereka menghadap ke sungai Nil karena air sungai Nil bagi mereka adalah sebuah keindahan dan sumber inspirasi serta sekaligus anugerah kehidupan yang besar. Sementara budaya air kita adalah menghadapkan bagian belakang rumah ke arah sungai di mana sungai dijadikan sebagai tempat pembuangan limbah dari rumah. Akibatnya sungai tidak menjadi sumber keindahan dan inspirasi di samping sumber kehidupan, melainkan justru menjadi permasalahan berupa pencemaran. Hari ini nampaknya kita harus bercermin pada mereka tentang budaya air mereka. Sekaligus ada niatan yang kuat dengan dibarengi langkah nyata untuk sama-sama merubah budaya air kita yang buruk menjadi budaya air yang lebih baik. #savewater #worlddayforwater

Senin, 16 Desember 2013

Perpeloncoan, Sebuah Model ‘Pendidikan’ Topeng Monyet


Oleh: Niki Alma Febriana Fauzi

Tahukah anda bagaimana cara mendidik monyet agar menjadi penurut, sehingga ia bisa show di panggung-panggung perempatan kota-kota besar? Konon, cara efektif untuk ‘mendidik’ monyet adalah dengan menyiksanya – tanpa memberi makan dan minum. Ketika monyet telah merasakan kelaparan dan kehausan yang teramat sangat, maka pada saat itulah si pawang topeng monyet harus memanfaatkan moment tersebut untuk sedikit demi sedikit melatih monyet untuk melakukan suatu pekerjaan yang tidak biasa dilakukan oleh monyet pada umumnya. Monyet merupakan salah satu hewan yang sangat bandel dan susah diatur. Untuk ‘mendidik’ monyet memang perlu cara-cara khusus agar ia bisa ditaklukkan. Salah satunya adalah dengan melakukan perpeloncoan. Sebuah istilah yang sering kita dengar di lingkungan pendidikan di Indonesia.

Korupsi, KPK dan Agama


Oleh: Niki Alma Febriana Fauzi

Korupsi bukanlah hal baru. Apalagi di negara bernama Indonesia. Virus korupsi telah mampu menjangkiti pelaku-pelaku kehidupan. Ia tak memandang jenis kelamin, profesi, kelas sosial bahkan agama. Ya, agama. Korupsi telah berhasil menembus sekat-sekat sakralitas keyakinan seseorang. Ia tak takut lagi dengan dogma-dogma yang biasa dilafalkan dengan fasih oleh para pemuka agama. Bahkan beberapa oknum pemuka agama akhir-akhir ini justru bersahabat karib dengan virus mematikan bernama korupsi.

Sejarah Islam mengisahkan bahwa sejak era Nabi Muhammad korupsi telah terjadi, meski dalam praktik yang masih sangat sederhana. Tindakan seorang sahabat Nabi pada waktu penaklukan kota Khaibar dengan melakukan korupsi atas harta rampasan perang yang didapat pasukan muslim adalah sebuah contoh riil praktek korupsi pada zaman tersebut. Ketika itu harta rampasan yang dikorupsi jumlahnya tidak sampai dua dirham. Mata uang dirham di zaman tersebut sama nilainya dengan sepersepuluh dinar. Satu dinar adalah 4,25 gram emas murni. Jika dihitung, dua dirham berarti 2 x 0,45 gram emas = 0,85 gram. Apabila dirupiahkan dengan asumsi bahwa harga emas per gram adalah Rp. 100.000, maka korupsi di Khaibar tersebut hanya sekitar Rp. 85.000. Jumlah nominal yang sangat sedikit bila dibanding harta yang diambil para koruptor hari ini. Pada saat pelaku koruptor ini meninggal dunia, Nabi enggan menyalatkan jenazahnya. Beliau menyuruh sahabat-sahabatnya saja yang menyalatkan. Ini merupakan bentuk hukuman moral Nabi kepada pelaku koruptor ketika itu.

Selasa, 03 Desember 2013

Madu Beracun


Madu beracun. Begitu sebuah judul salah satu roman Kahlil Gibran. Roman yang mengintonasikan dengan sangat ‘pas’ sebuah kekecewaan seseorang atas sesuatu yang disangkakan sebagai kebahagian, tapi ternayata adalah sebuah malapetaka. Seseorang yang kecewa dengan hasil yang didapat karena ternyata tidak sesuai dengan harapan awal. Roman ini bagi penikmat karya-karya seniman Lebanon tersebut tentu tidak asing. Madu Beracun hanya salah satu dari karya hebat seorang Kahlil Gibran.

Tak ada yang tahu siapa dan apa yang menginspirasi Gibran menulis roman itu. Mungkin baginya dunia adalah sebuah kanvas yang di manapun seorang pelukis dapat bebas menggoreskan kuasnya, atau seperti huruf-huruf acak yang harus dirangkai menjadi sebuah kata dan kalimat yang bermakna. Semua itu hanyalah kemungkinan yang kita buat.

Kalau Syiah Bukan Islam, Terus Gue Harus Bilang “Wow” Githu? (Sebuah Refleksi atas Publikasi Baliho Anti Syiah di Yogyakarta)



Sekitar dua mingguan lalu ketika mengendarai motor di satu jalan di Yogyakarta pandangan saya sedikit terganggu dengan sebuah baliho besar di pinggir pertigaan Parkir Ngabean Yogyakarta. Tulisan pada baliho itu tak kalah ‘menyengat’ dibanding terik matahari Jogja siang itu. Dengan kecepatan yang agak diperlambat saya mencoba mengamati lebih seksama. “Jangan Ragu!! Syiah Bukan Islam”. Demikian sepenggal kalimat besar yang ada pada baliho tersebut.

Tak lama berselang dari kejadian itu, sekitar beberapa hari kemudian, ketika saya melewati Jalan Wirosaban, tepat di hadapan muka sebelah timur Rumah Sakit Kota Yogyakarta (atau biasa disebut Rumah Sakit Wirosaban) terpampang pula dengan angkuh baliho besar seperti yang saya lihat di pinggir pertigaan Parkir Ngabean Yogyakarta. Pandangan saya kembali terganggu dengan kalimat provokatif pada baliho itu.
Saya mencoba berangan menjadi orang lain ketika tulisan dalam baliho tersebut saya baca. Barangkali perasaan penasaran, biasa-biasa saja, risih (seperti saya), kebencian yang semakin menjadi-jadi terhadap Syiah atau mungkin malah menjadi simpati pada Syiah, akan muncul pada benak masing-masing pembaca. Tapi selama berangan menjadi orang lain, saya belum mampu menerawang tujuan utama kelompok yang memasang baliho tersebut.